Jumlah Bayi Perempuan Diprediksi Berkurang Hampir 5 Juta Dalam 10 Tahun ke Depan Karena Tren Ini
pixabay.com/Ilustrasi/RitaE
Dunia

Praktik pemilihan jenis kelamin di negara-negara dengan preferensi budaya untuk keturunan laki-laki dianggap dapat merusak kohesi sosial dalam jangka panjang.

WowKeren - Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal medis BMJ memprediksi jika sebanyak 4,7 juta lebih sedikit anak perempuan yang akan lahir secara global dalam 10 tahun ke depan. Hal ini disebabkan karena adanya praktik pemilihan jenis kelamin di negara-negara dengan preferensi budaya untuk keturunan laki-laki.

Tren semacam ini dianggap dapat merusak kohesi sosial dalam jangka panjang. Penelitian itu menunjukkan bahwa proyeksi kekurangan jumlah anak perempuan yang dilahirkan akan menyebabkan surplus laki-laki muda di sekitar sepertiga dari populasi global pada tahun 2030 mendatang.

Kondisi semacam ini dikhawatirkan akan memicu peningkatan perilaku anti-sosial dan kekerasan. Melansir Malay Mail, aborsi selektif jenis kelamin telah meningkat selama 40 tahun terakhir di sejumlah negara seperti Eropa Tenggara serta Asia Selatan dan Timur.


Untuk memodelkan efek jangka pendek dan jangka panjang dari pemilihan jenis kelamin pada masyarakat, tim peneliti internasional menganalisis data dari lebih dari tiga miliar kelahiran selama 50 tahun terakhir. Mereka berfokus pada 12 negara di mana rasio laki-laki-perempuan telah meningkat sejak 1970 dan 17 lainnya di mana rasio itu berisiko meningkat karena tren sosial atau budaya.

Dari kondisi itu, mereka pun mensimulasikan 2 macam skenario. Yang pertama mengasumsikan peningkatan tingkat pemilihan jenis kelamin, berdasarkan bukti statistik. Skenario kedua mengasumsikan peningkatan seleksi jenis kelamin di negara-negara tertentu, berdasarkan tren yang diamati dan penurunan kesuburan.

Dalam skenario 1, negara-negara melihat kekurangan 4,7 juta dalam jumlah anak perempuan yang dilahirkan pada tahun 2030. Untuk skenario 2, angka tersebut melonjak menjadi lebih dari 22 juta secara global pada tahun 2100. Tak hanya memicu perilaku kekerasan seksual, kondisi ini juga bisa mempengaruhi stabilitas jangka panjang.

"Perempuan yang kurang dari perkiraan dalam suatu populasi dapat mengakibatkan peningkatan tingkat perilaku dan kekerasan anti-sosial," tulis para peneliti. "Dan pada akhirnya dapat mempengaruhi stabilitas jangka panjang dan pembangunan berkelanjutan sosial."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts