Warga Peringati Setahun Ledakan Beirut Lebanon, Tuntut Pertanggungjawaban Pemerintah
Flickr-European Union/Lisa Hastert
Dunia

Ledakan di Beirut, Lebanon pada 4 Agustus 2020 menewaskan 200 orang lebih. Setahun berselang, rakyat masih menuntut pertanggungjawaban pemerintah yang diduga sudah tahu soal tumpukan ammonium nitrat pemicu ledakan.

WowKeren - Tanggal 4 Agustus 2020, dunia digegerkan dengan ledakan besar yang melanda Beirut, Ibu Kota Lebanon. Setidaknya 214 nyawa melayang dalam peristiwa memilukan tersebut, yang disebabkan oleh ribuan ton amonium nitrat yang tersimpan bertahun-tahun di pelabuhan setempat.

Ribuan warga Lebanon berkumpul di dekat Gedung Parlemen, mulai dari sekadar mendoakan mereka yang meregang nyawa dalam insiden tersebut hingga melancarkan aksi protes dengan melempari batu ke petugas keamanan. Suara mereka masih sama, menuntut pertanggungjawaban pemerintah terutama untuk pihak-pihak yang sudah mengetahui keberadaan ribuan ton bahan peledak tersebut di pelabuhan Beirut.

Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) mengklaim bahwa hanya seperlima dari total ammonium nitrat yang meledak pada peristiwa setahun lalu. Temuan ini memicu kekhawatiran soal potensi ledakan lain yang bisa terjadi di masa depan dan mengeraskan tuntutan masyarakat akan pertanggungjawaban pemerintah.

Tuntutan Hakim Investigasi Lebanon, Tarek Bitar, untuk memeriksa petinggi negara hingga kini terus ditolak otoritas terkait. Situasi ini dikecam sejumlah aktivitas Hak Asasi Manusia (HAM) dunia seperti Amnesty International hingga Human Rights Watch.


Bahkan Human Rights Watch merilis laporan yang menunjukkan bocoran data soal "sikap pasrah" petinggi Lebanon atas tumpukan ribuan ton bahan peledak tersebut, termasuk Presiden Michael Aoun, Perdana Menteri Hassan Diab, hingga sejumlah petinggi pertahanan negara dan mantan menteri. "(Mereka) tahu soal ammonium nitrat yang disimpan dan diam-diam menerima risiko kematian yang bisa terjadi," ujar Human Rigths Watch.

"Presiden Aoun, pejabat Konsil Tinggi Pertahanan Negara, mengakui bahwa mereka tahu soal ammonium nitrat sejak setidaknya 21 Juli 2020," tutur Aya Majzoub selaku peneliti Human Rights Watch Lebanon, Selasa (3/8). "(Presiden Aoun) sudah meminta penasihatnya untuk menindaklanjuti hal tersebut, namun dia juga mengklaim tidak bertanggung jawab. Dia bahkan tidak menggelar rapat lebih jauh untuk masalah ini."

"Mereka semua tahu, tetapi mereka tidak melakukan apa-apa," tegas Majzoub, yang tentu saja semakin memicu emosi masyarakat Lebanon. Para penyintas kejadian ini mengaku mengalami banyak penderitaan, terutama karena trauma yang dialami.

"Saya sangat marah. Saya tidak berharap mereka (yang tahu soal ammonium nitrat itu) meninggal tetapi menderita," tegas Hadeel Adil Ladki (28), salah satu penyintas ledakan Beirut yang kini didiagnosis PTSD hingga bipolar disorder, kepada UPI. "Saya ingin melihat ketakutan di mata mereka sebanyak yang saya rasakan waktu itu."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait