Ebrahim Raisi menggantikan Hassan Rouhani, yang memimpin negara itu sejak 2013. Dia menerima 62 persen suara negara dalam pemilihan yang digelar pada Juni.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 06 Agustus 2021 - 10:38 WIB
WowKeren - Ulama konservatif garis keras Ebrahim Raisi secara resmi dilantik sebagai presiden Iran pada Kamis (5/8). Pelantikan ini terjadi dua bulan setelah kemenangan pemilihannya.
Raisi menjadi presiden kedelapan Iran sejak revolusi 1979 dalam sebuah upacara yang diadakan di Parlemen Iran. Dia mengambil sumpah jabatan setelah Mohammad Baqer Qalibaf, juru bicara Parlemen Iran, dan Gholam Hossein Mohseni Ejei, kepala peradilan Iran, memberikan pidato.
Para pejabat dari lebih dari 80 negara menghadiri upacara tersebut. Raisi menggantikan Hassan Rouhani, yang memimpin sejak 2013. Dia menerima 62 persen suara negara dalam pemilihan yang digelar pada Juni, yang oleh beberapa kritikus dituduh dicurangi.
Sumpah jabatan diberikan dua hari setelah Ayatollah Ali Khamenei secara resmi mendukung Raisi dalam sebuah upacara di Teheran. Dalam acara itu, Raisi berjanji untuk mencabut "sanksi kejam" yang dijatuhkan oleh Amerika Serikat dan berjanji untuk tidak mengikat masa depan Iran dengan negara mana pun di Barat.
Dia mengatakan dia berencana untuk melanjutkan pembicaraan dengan kekuatan dunia mengenai kesepakatan nuklir 2015. Sementara itu, seorang juru bicara diplomatik Amerika Serikat segera mendesak Raisi untuk kembali ke pembicaraan tentang dimulainya kembali kesepakatan nuklir Iran tahun 2015.
"Pesan kami kepada Presiden Raisi sama dengan pesan kami kepada para pendahulunya," kata juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price Kamis. "AS akan membela dan memajukan kepentingan keamanan nasional kami dan kepentingan mitra kami."
Diketahui, Iran telah bernegosiasi dengan enam kekuatan utama untuk menghidupkan kembali kesepakatan yang ditinggalkan secara sepihak pada 2018 oleh Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, pembicaraan multilateral di Wina mengenai pembaruan larangan Iran untuk memperoleh senjata nuklir telah ditangguhkan pada 20 Juni lalu sembari menunggu hasil Pemilu.
Oleh sebab itu, Price mendesak Iran untuk tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. "Kami berharap Iran mengambil kesempatan sekarang untuk memajukan solusi diplomatik," kata Price.
Sebelumnya, Iran sempat dituduh terlibat dalam serangan pesawat tak berawak terhadap kapal tanker minyak yang terkait dengan miliarder Israel di lepas pantai Oman. Namun Iran telah membantah keterlibatan mereka.
(wk/zodi)