Makin Panas, Taliban Klaim Berhasil Duduki 3 Ibu Kota Provinsi Afghanistan
Wikimedia Commons
Dunia

Taliban mengklaim sudah berhasil menduduki 3 ibu kota provinsi Afganistan, termasuk pusat komunikasi di Kunduz. PBB pun didesak untuk segera mengintervensi krisis ini.

WowKeren - Berbagai gejolak politik tengah terjadi di Timur Tengah, termasuk kelompok pemberontak Taliban yang kembali mencoba menduduki daerah-daerah strategis di negara tersebut. Yang terbaru, pada Minggu (8/8) kemarin, Taliban mengklaim sudah berhasil merebut kota ketiga yakni Kunduz.

Ketiga kota yang dimaksud adalah ibu kota dari beberapa provinsi besar di Afganistan. Kunduz sendiri merupakan pusat strafegi komunikasi Afganistan sehingga pendudukannya tentu berdampak sangat besar.

Deputi Kepala Kepolisian Distrik Kunduz, Sayed Jawad Hussaini, mendeskripsikan situasinya sangat kritis. Semua pasukan keamanan Afganistan di Kunduz sudah dipukul mundur sampai ke bandara, sedangkan bagian utara Ibu Kota Sar-e-pul dan Taliqan juga sudah jatuh dalam kendali Taliban.

"Kami sangat lelah. Pasukan keamanan sangat lelah," ujar Hussaini, dikutip dari UPI, Senin (9/8). "Di waktu yang sama kami tidak menerima bantuan juga gagal menarget Taliban tepat waktu."


Namun pemerintah pusat Afganistan sendiri terus berusaha mengambil alih kondisi. Kepada CNN, Kementerian Pertahanan Afganistan mengaku sudah berhasil merebut kembali Alun-Alun Kota Jenderal Raziq serta pusat komando Radio dan TV Nasional Kunduz.

Meski demikian, perlawanan Taliban sama sekali tidak berkurang. Dalam klaimnya yang belum bisa dikonfirmasi, Taliban menyatakan sudah menduduki semua bagian kota sekaligus meningkatkan persenjataan, kendaraan, serta peralatan militer mereka.

Krisis yang terjadi di Afganistan terus diawasi internasional, termasuk oleh satuan khusus keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) untuk Afganistan. Satuan itu mendesak Konsil Keamanan PBB untuk segera melakukan dialog perdamaian karena Afganistan saat ini dalam titik balik yang berbahaya, menyusul makin banyaknya pasukan keamanan yang dipukul mundur Taliban.

Deborah Lyons dari satuan tersebut mendesak PBB untuk mengambil langkah tegas. "Di depan terbentang baik negosiasi perdamaian sejati atau serangkaian krisis yang terjalin secara tragis: konflik yang semakin brutal dikombinasikan dengan situasi kemanusiaan yang akut dan pelanggaran hak asasi manusia yang berlipat ganda," tegas Lyons, Jumat (6/8).

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait