Pesan Adem PM Singapura Tanggapi Isu Rasisme di Negaranya
Dunia

PM Lee memperingatkan bahwa isu rasisme dapat menjadi sumber perpecahan bangsa. Oleh sebab itu, pemerintah akan menanggapi isu rasisme dengan serius dan meminta kerja sama warganya.

WowKeren - Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong baru-baru ini membahas dampak COVID-19 pada pekerja upah yang lebih rendah, kecemasan warga Singapura mengenai pemegang pass kerja asing, dan isu rasisme di Singapura. Hal itu ia sampaikan dalam Pesan Hari Nasional-nya pada Minggu (8/8).

Mula-mula ia berbicara mengenai dampak luar biasa pandemi pada kehidupan dan mata pencaharian orang-orang. Bahkan Singapura pun tak luput dari pukulan itu. "Setiap kali kita berpikir kita telah mengendalikannya, maka kondisi akan mengejutkan kita," ujarnya.

Beruntung, dampak tersebut boleh dibilang mampu diatasi. Lebih dari dua pertiga warga Singapura sepenuhnya divaksinasi dan tingkat vaksinasi harian 1 persen dari populasi.

Ia juga tak memungkiri adanya aksi rasis baru-baru ini. Awal bulan ini, poster NDP yang menampilkan keluarga Singapura-India telah menjadi sasaran sejumlah komentar rasis dan xenofobia. "Baru-baru ini, beberapa insiden rasis telah mendapatkan publisitas luas yang diperkuat oleh media sosial. Insiden seperti itu memang mengkhawatirkan, tetapi itu bukan norma," jelasnya lagi.


Ia memperingatkan bahwa isu rasisme dapat menjadi sumber perpecahan bangsa. Oleh sebab itu, pemerintah akan menanggapi isu rasisme dengan serius. Ia berkata, "Butuh upaya berkelanjutan selama beberapa generasi untuk menyatukan ras dan agama kita, serta menumbuhkan ruang bersama."

Lee mengatakan bahwa kerukunan ras dan agama Singapura bukanlah hasil dari "setiap kelompok yang bersikeras pada identitas dan haknya", melainkan "buah dari saling pengertian dan kompromi oleh semua pihak: mayoritas maupun minoritas".

Memang sudah menjadi tugas pemerintah untuk menangani masalah ini guna menjaga keseimbangan yang rapuh agar kehidupan tetap berjalan harmonis. Tentu saja tanpa memandang ras, bahasa, atau agama.

“Kita tidak boleh dengan mudah melepaskan keseimbangan yang diperoleh dengan susah payah dan rapuh ini," tegasnya. "Seiring dengan perkembangan masyarakat, kita harus terus menyesuaikan keseimbangan ini untuk menjaga keharmonisan sosial."

Dan untuk mewujudkan itu semua, pemerintah memerlukan kerja sama dengan warganya. "Untuk melakukan ini, kami membutuhkan kerja sama, dukungan, dan kepercayaan Anda," pungkasnya.

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait