Peneliti Inggris 'Akali' Larangan Booster COVID-19 WHO Dengan Cara Kurangi Dosis
Pixabay/DoroT Schenk
Dunia

WHO meminta negara menunda rencana vaksinasi booster di tengah kurangnya suplai vaksin COVID-19 global. Peneliti Inggris pun membuka opsi penyuntikan booster dengan dosis yang dikurangi.

WowKeren - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyampaikan kekhawatirannya akan suplai vaksin COVID-19 menyusul semakin banyaknya negara yang hendak menyuntikkan dosis ketiga alias booster. WHO menyoroti masih banyaknya negara yang belum mendapatkan akses dosis pertama vaksin COVID-19, bahkan untuk kelompok rentan dan risiko tinggi mereka.

Hal inilah yang memicu peneliti Inggris menggelar riset untuk melihat bagaimana dampak apabila vaksin booster tetap diberikan namun dengan dosis yang lebih sedikit. Dengan kata lain, vaksinasi dosis ketiga tetap diberikan namun bukan dalam dosis sebanyak vaksin pertama dan kedua atau "dosis fraksional".

Adalah peneliti dari Komite Gabungan Vaksinasi dan Imunisasi (JCVI) Inggris yang berminat untuk menyelidiki lebih jauh topik ini. JCVI pun kini bekerja sama dengan Rumah Sakit Universitas Southampton menggelar penelitian memeriksa efek pengurangan dosis vaksin ketiga kepada para relawan.


Riset ini sendiri didasarkan pada beberapa penelitian terkait yang sudah dilakukan, salah satunya oleh Epidemiolog Universitas Hong Kong, Prof Benjamin Cowling. "(Penggunaan dosis yang lebih rendah) mungkin menjadi solusi paling potensial untuk mengatasi kurangnya suplai vaksin ke daerah-daerah yang kurang diperhatikan," ujar Cowling dalam karya ilmiahnya, dikutip dari The Guardian, Senin (23/8).

Namun temuan ini memicu kekhawatiran beberapa pakar kesehatan lain. Seperti memungkinkan untuk muncul resistensi terhadap vaksin, meski juga akan lebih sedikit orang terinfeksi COVID-19 karena setidaknya sudah mendapat "pecahan" kekebalan yang dihasilkan sebagian dosis vaksin tersebut.

Guru Besar bidang Epidemiologi Universitas Oxford, David Hunter, menyatakan metode ini sudah digunakan untuk menghadapi penyakit lain seperti ebola dan polio ketika suplai vaksin masih terbatas. "Ide dasarnya adalah untuk mengimunisasi lebih banyak orang dengan suplai yang tersedia. Kunci utamanya adalah seberapa besar berkurangnya efikasi vaksin yang dialami setiap penerima dengan metode ini," ujar Hunter.

"(Sehingga) sangat memungkinkan vaksin booster diberikan dengan dosis yang lebih rendah dari vaksin pertama dan dua," imbuhnya. "Jika dosis yang lebih rendah terbukti hanya sedikit mengurangi kemanjuran, maka metode ini bisa dipertimbangkan. Yang terpenting, metode ini dilakukan dengan cara yang tidak menyebabkan keraguan akan manfaat vaksinasi meski dosisnya dikurangi."

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait