Riset menunjukkan tingkat kemanjuran vaksin Pfizer untuk penerima usia 16 tahun ke atas sampai 95,5 persen, sedangkan untuk penerima 12-15 tahun sampai 100 persen.
- Elvariza Opita
- Sabtu, 28 Agustus 2021 - 11:18 WIB
WowKeren - Saat ini Indonesia sudah mengedarkan beberapa jenis vaksin, salah satu yang terbaru adalah Pfizer. Dengan reputasi Pfizer yang luar biasa di luar negeri, tak heran bila vaksin ini banyak diburu masyarakat Indonesia meski fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengklaim produk tersebut tidak halal.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sendiri sudah menetapkan nilai efikasi alias kemanjuran dari vaksin Pfizer, yakni sampai 95,5 persen untuk penerima usia 16 tahun ke atas. Bahkan untuk penerima usia 12-15 tahun, vaksin Pfizer menunjukkan keberhasilan sampai 100 persen.
"Hasil penelitian mutu vaksin Pfizer telah memenuhi standar persyaratan mutu vaksin," ujar Kepala BPOM Penny Lukito dalam siaran persnya 15 Juli 2021 lalu. Lantas apakah dengan tingkat efikasi yang tinggi, efek samping yang ditimbulkan dari penyuntikan vaksin Pfizer akan "sekeras" Moderna?
BPOM rupanya sudah menegaskan bahwa secara umum keamanan vaksin yang dikembangkan Pfizer bekerja sama dengan BioNTech ini bisa ditoleransi oleh semua kelompok usia. Beberapa efek samping yang timbul seperti nyeri pada tempat suntikan, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, menggigil, nyeri sendi, hingga demam.
Meski demikian, efek samping ini dinilai ringan sehingga relatif aman untuk beberapa pengidap kondisi khusus seperti autoimun, komorbid berat, penyakit kronis, maupun gangguan immunologi lainnya. Karena efek samping yang cenderung bisa ditoleransi dengan baik ini pula, vaksin Pfizer menjadi salah satu yang direkomendasikan bagi ibu hamil dan menyusui.
Efikasi yang tinggi serta efek samping yang bisa ditoleransi dengan baik tentu saja menjadi alasan kuat bagi masyarakat untuk "memperebutkan" vaksin Pfizer. Meski demikian, terdapat satu kendala cukup besar terkait vaksin Pfizer, yang membuatnya sejauh ini hanya diprioritaskan distribusinya di Jabodetabek.
BPOM memberi catatan bahwa vaksin Pfizer harus disimpan dengan metode ultra low temperature alias dari minus 90 sampai minus 60 derajat Celsius. Dengan metode penyimpanan ini, waktu simpan vaksin Pfizer bisa sampai 6 bulan, namun akan berkurang drastis menjadi 30 hari saja apabila suhu penyimpanannya diturunkan menjadi 2-8 derajat Celsius.
"Vaksin ini harus disiapkan oleh petugas kesehatan yang sudah dilatih menggunakan teknik tertentu dalam menangani rantai dingin," imbuh Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kementerian Kesehatan, drg Widyawati MKM, dikutip pada Sabtu (28/8). "Termasuk cara mencairkan dan mengencerkan vaksin sebelum disuntikkan."
(wk/elva)