Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Gotabaya Rajapaksa pada hari Selasa (31/8) yang melarang warganya untuk menimbun sejumlah bahan pokok seperti gula dan beras.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 31 Agustus 2021 - 16:30 WIB
WowKeren - Sri Lanka telah menderita krisis ekonomi yang cukup parah. Kondisi ini tak kunjung berkembang ke arah yang lebih baik hingga kekinian negara itu telah mengumumkan status darurat pangan.
Status darurat ini dikeluarkan lantaran bank-bank swasta kehabisan devisa untuk membiayai impor. Pengumuman ini disampaikan oleh Presiden Gotabaya Rajapaksa pada hari Selasa (31/8). Seiring dengan disampaikannya pengumuman itu, presiden melarang warganya untuk menimbun sejumlah bahan pokok seperti gula, beras, dan makanan pokok lainnya.
Dengan adanya peraturan ini, pejabat memiliki kewenangan untuk menindak siapa pun yang melanggar, seperti menangkap orang yang sengaja menimbun bahan pokok. Pemerintah juga akan menetapkan harga agar tetap terkendali.
Untuk mengkoordinasikan pasokan beras, beras, gula, dan barang-barang konsumsi lainnya, presiden telah menunjuk seorang perwira tinggi Angkatan Darat sebagai Komisaris Jenderal Layanan Esensial. Kondisi ini terjadi di tengah meningkatnya kasus COVID-19 yang dialami negara itu.
Sebelum dikeluarkannya status ini, telah terjadi kenaikan tajam pada harga gula, beras, bawang merah, dan kentang. Antrean di toko juga memanjang dengan orang-orang mulai kekurangan pasokan susu bubuk, minyak tanah dan gas untuk memasak.
Adapun hal ini disebabkan karena adanya pedagang nakal yang sengaja menimbun stok pangan. Menteri Perdagangan Bandula Gunawardena mengatakan aksi penimbunan ini menyebabkan kelangkaan bahan pangan dan membuat masyarakat resah.
Di tengah upaya berjibaku melawan pandemi, negara berpenduduk 21 jiwa itu telah meningkatkan hukuman bagi mereka yang melakukan penimbunan makanan. Ekonomi menyusut dengan rekor 3,6 persen pada tahun 2020 karena pandemi.
Pemerintah juga telah melakukan sejumlah upaya untuk menghemat devisa negara. Misalnya dengan melarang impor kendaraan dan barang-barang lainnya, termasuk minyak nabati dan kunyit, hingga bumbu penting untuk memasak.
Importir tidak dapat memperoleh dolar untuk membayar makanan dan obat-obatan. Untuk menopang mata uang lokal, Bank Sentral Sri Lanka telah menaikkan suku bunga. Agar negara bisa menggunakan devisa untuk membeli obat-obatan esensial dan vaksin, Menteri ESDM Udaya Gammanpila bahkan telah mengimbau pengendara untuk hemat BBM.
(wk/zodi)