Afghanistan di Ambang Kelaparan Imbas Stok Pangan dari PBB Habis Bulan Ini
AFP
Dunia

PBB mengungkap stok bahan pangan di Afghanistan akan habis pada akhir September 2021. Diperlukan setidaknya USD200 juta untuk memastikan kaum rentan tidak kelaparan.

WowKeren - Ketidakstabilan tengah terjadi di Afghanistan pasca Taliban berhasil mengambilalih kekuasaan. Perkembangan terkini, diketahui bahwa Amerika Serikat dan negara barat sudah menarik mundur semua pasukan mereka, yang disambut dengan kemenangan besar oleh Taliban.

Namun euforia kebahagiaan Taliban tampaknya tidak bisa berlangsung panjang karena Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB / UN) mengingatkan potensi bencana kemanusiaan yang akan tiba. Dan benar saja, kini PBB juga mengingatkan soal tantangan kelaparan yang menuntut untuk segera diselesaikan.

Dalam pernyataannya, PBB mengklaim bahwa stok pangan untuk warga Afghanistan kemungkinan habis bulan September ini. Kepala Bagian Kemanusiaan PBB di Afghanistan, Ramiz Alakbarov, menyatakan bahwa sepertiga populasi tersebut bahkan tidak tahu apakah masih bisa makan atau tidak.

Selama ini, Program Pangan Dunia PBB lah yang selalu menyediakan bahan pangan, dengan tingkat distribusi sampai ribuan dalam beberapa pekan terakhir. Namun menjelang musim dingin serta kekeringan berkepanjangan, Alakbarov memperkirakan diperlukan setidaknya USD200 juta untuk tetap memberi makan kepada kaum rentan di Afghanistan.


"Pada akhir September, stok Program Pangan Dunia di negara tersebut akan habis," kata Alakbarov dalam konferensi pers virtualnya, dikutip dari AP, Kamis (2/9). "Kami tidak bisa menyediakan bahan pangan lagi karena kami sudah kehabisan stok."

Sedangkan pejabat PBB lain memprediksi diperlukan USD1,3 miliar untuk membantu Afghanistan secara keseluruhan, dan baru 39 persen di antaranya yang bisa dipenuhi. Situasi ini merupakan tantangan besar bagi Taliban, yakni mengembalikan kestabilan di negara yang selama ini sangat bergantung pada bantuan internasional, yang tentu tak bisa terjamin di tengah krisis ekonomi yang memburuk beberapa waktu belakangan.

Situasi dalam negeri juga memburuk karena banyaknya aset Afghanistan di luar negeri yang saat ini dibekukan. Sementara di Afghanistan sendiri para pekerja sipil rupanya sudah berbulan-bulan tidak dibayar, pun dengan mata uang lokal yang saat ini kehilangan nilainya.

Mantan Pelaksana Tugas Menteri Keuangan Afghanistan, Khalid Payenda, ketika menjadi pembicara di Universitas Georgetown Washington AS menyebut bahwa saat ini negaranya sedang dalam kondisi sangat rentan. Semua krisis yang terjadi diperburuk setelah Presiden Ashraf Ghani kabur serta ketakutan banyak warga atas kembali berkuasanya Taliban.

(wk/elva)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait