Lebih Dari 50 Persen Warga Malaysia Disebut Telah Mendapatkan Vaksinasi COVID-19 Penuh
Dunia
Vaksin COVID-19

Masing-masing negara di dunia hingga saat ini masih terus berupaya untuk bisa mencapai kekebalan komunal dengan melaksanakan vaksinasi COVID-19. Maka tak heran jikan setiap negara 'berebut' untuk mendapatkan pasokan vaksin.

WowKeren - Vaksinasi COVID-19 saat ini menjadi fokus utama bagi setiap negara di dunia. Hal ini lantaran vaksinasi dinilai sebagai upaya yang efektif dalam menghadapi pandemi.

Saat ini, setiap negara di dunia diketahui tengah berlomba-lomba untuk bisa mencapai kekebalan komunal atau herd immunity. Dengan mencapai kekebalan komunal, maka negara tersebut bisa mengendalikan laju penyebaran COVID-19.

Terbaru, Malaysia menyebut bahwa sudah ada lebih dari 50 persen penduduknya yang mendapatkan suntikan dosis vaksin COVID-19 secara penuh. Menurut Komite Khusus untuk Memastikan Akses Pasokan Vaksin COVID-19 (JKJAV), sudah ada 50,5 persen dari total populasi Malaysia atau sekitar 16.492.295 orang divaksin penuh.

Berdasarkan infografis yang dibagikan melalui akun Twitter resmi JKJAV, pada Kamis (9/9) hari ini, menunjukkan 64,1 persen atau sebanyak 20.943.582 orang telah mendapat vaksinasi COVID-19 dosis pertama. Sementara pada Rabu (8/9) kemarin, sebanyak 320.452 dosis diberikan kepada penduduk Malaysia.

128.038 Dosis di antaranya diberikan sebagai suntikan vaksin COVID-19 pertama. Seangkan sisanya yakni 192.414 disuntikkan sebagai dosis kedua.


Dengan begitu, total kumulatif vaksinasi COVID-19 di Malaysia yang diberikan kepada masyarakat di bawah Program Imunisasi COVID-19 Nasional (NIP) menjadi 37.392.241 dosis. Sementara NIP ini telah dimulai sejak 24 Februari lalu.

Di sisi lain, ancaman COVID-19 hingga saat ini masih juga mengancam Malaysia. Sejak pandemi berlangsung di Malaysia, klaster yang menjadi penyumbang utama kasus adalah tempat kerja.

Bahkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Malaysia melaporkan bahwa hingga saat ini, klaster tempat kerja mencapai sebanyak 53,2 persen atau 1.549 dari total jumlah klaster secara nasional. Kemudian, peneliti telah mengidentifikasi tempat kerja.

Menurut peneliti, gedung perkantoran yang tertutup memiliki risiko sangat tingi untuk penyebaran COVID-19. Hal ini dikarenakan virus COVID-19 bisa menyebar melalui udara.

Di sisi lain, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga telah memperingatkan tentang risiko penularan COVID-19 tertinggi di dalam ruangan dengan sistem ventilasi yang buruk. Berdasarkan hasil penelitian lokal, mengatakan bahwa virus COVID-19 dapat tetap melayang-layang di udara hingga delapan jam di ruangan tertutup.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts