Sebagian besar satelit terbuat dari aluminium yang terbakar ketika memasuki atmosfer bumi. Yang menjadi masalah adalah proses pembakaran masih menyebarkan partikel kecil.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 14 September 2021 - 13:33 WIB
WowKeren - Jepang tengah membangun rencana untuk meluncurkan satelit kayu pertama ke luar angkasa. Universitas Kyoto dan Sumitomo Forestry Co. telah bekerja sama untuk merealisasikan rencana ini pada tahun 2023 mendatang.
Hal itu sebagaimana disampaikan oleh para ilmuwan. Langkah ini selain bertujuan untuk teknologi baru untuk satelit komersial juga diharapkan membantu melindungi lingkungan jauh di atas permukaan bumi.
Rencananya, para peneliti akan melakukan eksperimen mulai Desember mendatang di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Eksperimen ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan berbagai jenis kayu ketika dikirimkan ke luar angkasa.
Substrat semikonduktor satelit ini direncanakan akan terbuat dari silikon, logam, plastik dan bahan lainnya. Sedangkan material kayu akan digunakan pada bagian body-nya yang setiap sisinya berukuran 10 sampai 11 sentimeter.
Para ilmuwan mengatakan tidak ada penurunan kualitas yang terdeteksi dalam kualitas magnolia berdaun besar Jepang, hinoki cypress dan pohon cedar. Kesimpulan itu didapat usai kayu-kayu itu dibiarkan selama sekitar tiga tahun di laboratorium dengan tekanan atmosfer yang setara dengan lokasi setinggi 100 kilometer.
Dalam proyek tersebut, para ilmuwan akan mempelajari bagaimana kondisi ruangan mempengaruhi kayu. Untuk ini, para ilmuwan akan menggunakan tiga jenis pohon dengan tingkat kekerasan yang berbeda.
Diketahui, sebagian besar satelit yang ada saat ini terbuat dari bahan aluminium. Satelit-satelit itu dirancang untuk terbakar ketika memasuki atmosfer bumi saat sudah menyelesaikan tugas mereka. Namun yang menjadi masalah adalah proses pembakaran masih menyebarkan partikel aluminium yang sangat kecil.
Takao Doi, seorang astronaut dan profesor di Unit of Synergetic Studies of Space di Universitas Kyoto juga mengungkapkan kekhawatiran lain mengenai dampak partikel itu. Menurutnya, partikel-partikel kecil itu dapat mempengaruhi iklim di bumi.
"Jika volume partikel-partikel itu di ruang angkasa meningkat maka dapat membelokkan lebih banyak sinar matahari," ujarnya. "Berkontribusi pada peristiwa iklim ekstrem di seluruh dunia, seperti suhu yang luar biasa tinggi di beberapa bagian dan sebaliknya di daerah lain."
(wk/zodi)