Di bawah skenario paling buruk dengan tingkat emisi yang tinggi dan pembangunan yang tidak merata, akan ada hingga 216 juta orang bergerak di negara mereka sendiri.
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 14 September 2021 - 14:08 WIB
WowKeren - Perubahan iklim masih menjadi masalah serius yang dihadapi manusia. Laporan Bank Dunia memperkirakan bahwa perubahan iklim dapat mendorong 200 juta lebih orang untuk bermigrasi dalam tiga dekade mendatang.
Sehingga nantinya hal itu akan memunculkan hotspot tertentu yang menjadi destinasi. Masalah ini dapat dicegah jika manusia mengambil langkah tegas untuk segera mengupayakan pengurangan emisi global dan menjembatani kesenjangan pembangunan.
Bagian dari laporan Groundswell yang diterbitkan pada hari Senin (13/9) meneliti bagaimana dampak perubahan iklim yang terjadi secara lambat dapat memicu migran iklim di tahun 2050 mendatang. Adapun perubahan iklim lambat termasuk kelangkaan air, penurunan produktivitas tanaman, dan naiknya permukaan laut.
Di bawah skenario paling buruk dengan tingkat emisi yang tinggi dan pembangunan yang tidak merata, akan ada hingga 216 juta orang bergerak di negara mereka sendiri di enam wilayah yang dianalisis termasuk Amerika Latin, Afrika Utara, Sub-Sahara Afrika, Eropa Timur dan Asia Tengah.
Sedangkan dalam skenario yang paling ramah iklim, dengan tingkat emisi yang rendah dan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan, hanya akan ada 44 juta orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Dalam skenario terburuk, Afrika Sub-Sahara yang merupakan wilayah paling rentan karena penggurunan, garis pantai yang rapuh, dan ketergantungan penduduk pada pertanian akan mencatat migran dalam jumlah besar hingga 86 juta orang. Afrika Utara diperkirakan memiliki proporsi terbesar dari migran iklim.
Hal ini didorong oleh meningkatnya kelangkaan air di Tunisia timur laut, Aljazair barat laut, Maroko barat dan selatan, dan kaki bukit Atlas tengah. Sementara itu di Asia Selatan, Bangladesh sangat terpengaruh oleh banjir dan gagal panen.
Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa titik panas migrasi dapat muncul dalam dekade berikutnya dan meningkat pada tahun 2050. Di antara tindakan yang direkomendasikan adalah mencapai "emisi nol bersih pada pertengahan abad untuk memiliki kesempatan membatasi pemanasan global hingga 1,5 derajat Celcius".
(wk/zodi)