Banyak Siswa Terpapar COVID-19, PTM Terbatas Dinilai Jadi Sebuah Dilema
Nasional
Sekolah di Tengah Corona

Menurut Dirjen Paud Dikdasmen Kemendikbudristek, Jumeri, total ada 11.615 siswa yang dilaporkan positif terpapar COVID-19. Data tersebut didapatkan dari 46.500 sekolah yang telah menggelar PTM terbatas per 20 September 2021.

WowKeren - Pemerintah Indonesia telah membuka kembali pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas di wilayah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 1-3. Hampir separuh sekolah yang ada di Indonesia kini telah menggelar PTM terbatas.

Meski demikian, pembukaan sekolah tatap muka ini justru diikuti dengan adanya belasan ribu siswa yang terpapar virus corona (COVID-19). Menurut Dirjen Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Menengah (Paud Dikdasmen) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Jumeri, total ada 11.615 siswa yang dilaporkan positif terpapar COVID-19. Data tersebut didapatkan dari 46.500 sekolah yang telah menggelar PTM terbatas per 20 September 2021.

Tiga kota di Jawa Tengah baru-baru ini melaporkan klaster COVID-19 di sekolah, yakni Purbalingga, Blora, dan Jepara. Salah satu SMP di Purbalingga bahkan melaporkan adanya 90 siswa yang positif terpapar COVID-19.

Dinas Pendidikan Purbalingga lantas membantah klaster itu terjadi akibat pelanggaran batas-batas pelaksanaan PTM. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Purbalingga, Tri Gunawan Setiyadi, menegaskan bahwa pihak sekolah kala itu bahkan belum memulai PTM.

"Sekolah itu belum melaksanakan PTM. Anak-anak datang ke sekolah hanya untuk mengambil soal penilaian tengah semester," papar Plt Kepala Dinas Pendidikan Purbalingga, Tri Gunawan Setiyadi, dilansir BBC Indonesia, Kamis (23/9). "Itu pun dilaksanakan secara bergilir, mereka tidak datang secara bersamaan. Sekolah juga sudah menerapkan prokes, menyediakan sarana cuci tangan, hand sanitizer, dan melarang anak untuk berkerumun."

Menurut Tri, pihaknya masih menyelidiki penyebab puluhan siswa tersebut tertular COVID-19. Pihak Pemda juga berupaya mengisolasi para siswa tersebut di tempat karantina terpusat. Hanya saja, tutur Tri, banyak orangtua siswa yang menolak.


Adanya klaster penularan COVID-19 tersebut membuat Pemkab Purbalingga memutuskan utnuk menunda uji coba PTM terbatas di wilayahnya. Padahal, Purbalingga telah berstatus PPKM Level 3 dari 21 September hingga 4 Oktober 2021 mendatang.

"(Uji coba PTM ditunda) Sampai dengan adanya evaluasi lebih lanjut. Kita akan membuat SOP (standar operasional prosedur) yang lebih rigid lagi terkait pelaksanaan PTM," jelas Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, Rabu (22/9).

Di sisi lain, Wakil Sekretaris Jenderal Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Jejen Musfah menilai PTM terbatas di masa pandemi sebagai sebuah dilema. Meski PTM amannya baru dilakukan setelah virus benar-benar hilang, namun pembelajaran online yang berkepanjangan justru bisa berdampak negatif kepada siswa.

"Ini dilema memang, pada satu sisi yang ideal tentu menunggu sampai pandemi ini betul-betul zero ya, tapi tidak ada satu pun negara yang tahu pasti kapan pandemi ini akan berakhir," kata Jejen dalam diskusi virutal.

Menurutnya, pembukaan sekolah saat ini telah sangat mendesak. Terutama untuk wilayah yang tidak kesulitan jaringan internet, tidak memiliki gawai, atau tidak memungkinkan menggelar pembelajaran online. Jika ada kasus COVID-19 yang teridentifikasi, maka sekolah yang bersangkutan harus segera ditutup, disterilkan, dan dilakukan contact tracing terhadap semua orang yang masuk sekolah.

"Ditutup ketika terdeteksi ada kasus, kemudian setelah beberapa hari dibuka lagi, karena kita hanya melihat dari penilaian-penilaian satgas COVID-19 bahwa wilayah PPKM 1, 2, 3 itu bisa melaksanakan PTM," pungkasnya.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts