Panic Buying dimulai sejak 25 September setelah perusahaan minyak British Petroleum (BP) mengumumkan bahwa mereka harus menutup sementara beberapa pompa bensin.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 30 September 2021 - 09:45 WIB
WowKeren - Inggris telah mengambil langkah lanjut untuk mengatasi krisis energi di negaranya. Di tengah kepanikan terhadap pembelian bahan bakar, Inggris telah menempatkan tentaranya dalam keadaan siaga.
The Guardian melaporkan terjadinya kelangkaan bahan bakar dan antrean panjang. Langkah itu diumumkan oleh Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, yang menambahkan bahwa pengemudi tentara siap mengirimkan bensin dan solar untuk jangka pendek. Menurut BBC, 150 tanker militer sedang bersiap untuk mengirimkan bahan bakar ke pompa bensin yang telah kering.
Fenomena panic buying terjadi di Inggris usai negara tersebut menderita kekurangan sekitar 100.000 pengemudi truk (menurut BBC), sebagaimana dilaporkan Reuters. Alhasil, kondisi ini mengakibatkan stok bahan bakar tidak mencapai pompa bensin, serta menimbulkan masalah terhadap pasokan utama untuk restoran dan pengecer.
Panic buying dimulai sejak 25 September setelah perusahaan minyak British Petroleum (BP) mengumumkan bahwa mereka harus menutup sementara beberapa pompa bensin. Langkah itu diambil sebagai akibat dari jumlah pengemudi yang terus menurun.
Deutsche Welle melaporkan bahwa kementerian lingkungan Inggris telah mengklarifikasi bahwa negara tersebut tidak menghadapi kekurangan bahan bakar. Melainkan, hanya gangguan pada titik-titik pengiriman, sebagai akibat dari konsumen membeli bahan bakar yang tidak mereka butuhkan.
"Satu-satunya alasan kami tidak memiliki bensin di pom bensin adalah karena orang membeli bensin ketika mereka tidak membutuhkannya," kata Sekretaris Lingkungan Inggris, George Eustice.
Sementara itu, terkait kurangnya pengemudi truk BBC melaporkan hal itu disebabkan karena banyak pengemudi Eropa non-Inggris telah meninggalkan negara itu setelah Brexit. Keputusan itu mereka ambil terkait kebijakan terhadap lapisan tambahan birokrasi perbatasan dan dampaknya terhadap pendapatan mereka.
Eksodus pengemudi truk kemudian diperparah oleh krisis COVID-19, dengan hanya sedikit yang kembali ke Inggris. Pensiunan pengemudi yang lebih tua juga belum diganti. Sebab, di lain sisi gelombang calon pengemudi truk masih menunggu untuk lulus tes mengemudi untuk Kendaraan Barang Berat (HGV), sebagai akibat dari pandemi.
(wk/zodi)