Pekerja migran di Singapura telah berada di bawah pembatasan ketat sejak April 2020. Meski kebutuhan fisik dasar terpenuhi, namun tidak dengan kebutuhan kesehatan mental.
- Zodiak Yanuarita
- Rabu, 06 Oktober 2021 - 13:01 WIB
WowKeren - Studi terbaru melaporkan bahwa COVID-19 bertanggung jawab atas peningkatan masalah kesehatan mental di Singapura. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Institute of Mental Health (IMH), diketahui jika jumlah responden yang mengalami stres berat meningkat.
Begitu juga dengan mereka yang mengalami depresi dan insomnia klinis, dengan beberapa responden bahkan memiliki pikiran untuk bunuh diri. Namun di balik ini semua, ada satu hal positif yang bisa disimpulkan, bahwa mayoritas warga Singapura bersedia mencari bantuan profesional untuk masalah kesehatan mental.
Pekerja migran di Singapura telah berada di bawah pembatasan pergerakan yang sangat ketat sejak April 2020. Meskipun kebutuhan fisik dasar mereka terpenuhi, namun kebutuhan kesehatan mental belum tentu demikian.
Kabar baiknya, ada sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang berupaya membantu para pekerja migran mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Salah satunya adalah HealthServe.
Organisasi tersebut baru-baru ini meluncurkan saluran bantuan krisis yang dapat diakses selama 24 jam, sekaligus yang pertama di Singapura. Layanan ini bisa diakses oleh para pekerja migran yang berharap untuk mengatasi masalah kesehatan mental yang mereka temui selama pandemi.
HealthServe didirikan pada tahun 2006, menyediakan layanan kesehatan yang sangat dibutuhkan bagi pekerja migran di klinik Geylang. Pada tahun 2019, organisasi ini memulai inisiatif kesehatan mental yang menyediakan konseling bagi pekerja migran, menyadari bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Pada saat awal mula dibentuk, timnya hanya terdiri dari satu konselor. Karena kekurangan tenaga, HealthServe menyadari kebutuhan untuk merekrut lebih banyak konselor, terutama mereka yang dapat berbicara bahasa umum untuk pekerja migran, seperti Bengali atau Burma.
Salah satu konselor HealthServe adalah Durga Arivan, mengatakan bahwa masalah yang paling umum dihadapi para pekerja migran selama COVID-19 adalah kecemasan. Sudah menjadi hal yang biasa bagi pekerja migran untuk merasa terisolasi, mengingat bagaimana mereka tidak diizinkan mengunjungi masyarakat luas sejak April 2020, dan sebagian besar dibatasi di asrama ketika mereka tidak bekerja.
(wk/zodi)