Spyware Pegasus ini pada dasarnya dilisensikan secara eksklusif kepada pemerintah namun hanya terbatas untuk penggunaan dalam melacak teroris dan penjahat.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 07 Oktober 2021 - 13:43 WIB
WowKeren - Sebuah putusan pengadilan Inggris yang dirilis pada hari Rabu (6/10) menyatakan jika salah satu pemimpin Dubai menggunakan program pengawasan Israel untuk meretas telepon istri dan rekan terdekatnya.
Putusan oleh Pengadilan Tinggi Inggris menemukan bahwa agen Sheikh Mohammed bin Rashid al-Maktoum telah melakukan "pengawasan yang melanggar hukum" terhadap mantan istrinya, Putri Haya. Tak hanya Haya, namun juga asisten pribadinya, dua pengacaranya dan dua anggota tim keamanannya. Mohammed menggunakan spyware Pegasus NSO Group setelah dia melarikan diri ke London bersama kedua anaknya.
Spyware Pegasus memungkinkan operator untuk mengambil alih telepon tanpa perlu pemiliknya mengeklik tautan. Tak hanya itu, spyware ini juga secara diam-diam mampu mengirim data ponsel yang diretas. Tak hanya sebatas log panggilan, namun juga email, koordinat GPS, pesan teks, dan rekaman dari kamera dan mikrofon telepon, sebagaimana dilaporkan The Washington Post.
Pegasus ini pada dasarnya dilisensikan secara eksklusif kepada pemerintah namun hanya terbatas untuk penggunaan dalam melacak teroris dan penjahat. NSO dapat mencabut kontrak jika investigasi menunjukkan jika terdapat indikasi penyalahgunaan manfaat itu.
Melalui sebuah pernyataan kepada The New York Times NSO Group mengatakan jika mereka berkomitmen terhadap hak asasi manusia. "Setiap kali kecurigaan penyalahgunaan muncul, NSO menyelidiki, NSO memberi tahu, NSO menghentikan," kata perusahaan itu.
Selama musim panas 2020, telepon Haya diretas hingga 11 kali atas perintah "tersurat maupun tersirat" Sheikh Mohammed ketika dia sedang mempersiapkan sidang hak asuh terkait dengan perawatan jangka panjang untuk dirinya dan anak-anaknya, kata putusan itu. Dokumen pengadilan juga menunjukkan bahwa lebih dari 250 megabyte datanya "diekstraksi secara diam-diam" dari teleponnya. Yang mana, dari data-data tersebut tidak menutup kemungkinan mencakup juga sejumlah besar foto, video, rekaman audio, pesan teks atau email.
Tim hukum Haya mengatakan kepada pengadilan bahwa dia telah hidup dalam ketakutan baik mengenai hidupnya sendiri maupun keamanan anak-anaknya sejak dia meninggalkan Dubai pada April 2019. "Rasanya seperti sedang dikuntit, benar-benar tidak ada tempat bagi saya untuk pergi dengan aman," katanya."
(wk/zodi)