Banjir yang terjadi menyebabkan sejumlah keluarga melarikan diri ke ibu kota, Juba. Sedangkan yang lainnya memilih untuk mendirikan tenda darurat di pinggir jalan raya.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 08 Oktober 2021 - 17:42 WIB
WowKeren - Banjir tengah melanda sebagian wilayah dunia. Baru-baru ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) turut menyoroti banjir yang melanda wilayah Sudan Selatan.
Banjir ini turut berdampak pada setidaknya 623.000 orang sejak Mei. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) mengatakan dalam sebuah catatan bahwa hujan lebat mengakibatkan sungai-sungai meluap dan membanjiri rumah-rumah serta ladang pertanian di delapan dari 10 negara bagian di negara itu.
Negara bagian Jonglei dan Unity adalah yang paling parah terkena dampaknya. Banjir di wilayah ini mewakili 58 persen dari mereka yang terkena dampak, kata badan tanggap darurat. Catatan tersebut juga menambahkan bahwa berbagai fasilitas umum turut terdampak.
"Sekolah, rumah, fasilitas kesehatan, dan sumber air terendam, berdampak pada akses masyarakat terhadap layanan dasar," tulis catatan tersebut. "Akses fisik tetap menjadi tantangan utama bagi organisasi kemanusiaan untuk menilai dan menanggapi kebutuhan orang-orang yang terkena dampak banjir."
Banjir yang terjadi menyebabkan sejumlah keluarga melarikan diri ke ibu kota, Juba. Sedangkan yang lainnya memilih untuk mendirikan tenda darurat di pinggir jalan raya.
Banjir bukan satu-satunya masalah yang dialami negara itu. Di sejumlah negara bagian, kekerasan komunitas yang ada telah memaksa puluhan ribu orang meninggalkan rumah mereka. Kondisi ini juga mempersulit upaya pekerja darurat untuk membantu masyarakat yang dilanda banjir.
Di negara bagian lain, ada permasalahan lain yang tak kalah serius. Warrap, negara bagian barat laut, tengah berjuang melawan wabah campak selain berjibaku dengan kekerasan etnis yang melanda. Tim PBB pun telah berjuang untuk memberikan bantuan ke negara bagian tersebut.
Sementara itu, empat perlima dari 11 juta penduduk Sudan Selatan hidup dalam "kemiskinan mutlak", menurut Bank Dunia pada 2018. Lebih dari 60 persen penduduknya menderita kelaparan parah yang diakibatkan oleh berbagai faktor termasuk konflik, kekeringan, dan banjir.
(wk/zodi)