Presiden Pertama Iran Abolhassan Banisadr Meninggal Dunia di Paris
AP Photo/Francois Mori
Dunia

Abolhassan Banisadr dikenal sebagai sosok yang menonjol dengan kumis dan setelan bergaya Barat di antara jubah hitam dan sorban yang disukai oleh para pemimpin agama revolusi Iran lainnya.

WowKeren - Mantan Presiden Iran, Abolhassan Banisadr, meninggal dunia di usia 88 tahun pada Sabtu (9/10) hari ini. Banisadr yang melarikan diri dari Teheran setelah dimakzulkan dilaporkan meninggal dunia di Paris, Prancis.

Media Iran melaporkan bahwa Banisadr tutup usai setelah "lama berjuang melawan penyakit" di rumah sakit Salpêtrière di Paris. Sebagai informasi, Banisadr adalah presiden pertama Iran setelah Revolusi Islam 1979 di negara tersebut.

Beberapa bulan setelah revolusi, Banisadr menjadi presiden terpilih pertama dalam sejarah Iran. Ia berhasil mengumpulkan mayoritas suara publik yang kuat untuk memerintah selama empat tahun, dan juga mengumpulkan mayoritas suara publik yang kuat untuk memerintah selama empat tahun.

Mendiang dikenal sebagai sosok yang menonjol dengan kumis dan setelan bergaya Barat di antara jubah hitam dan sorban yang disukai oleh para pemimpin agama revolusi lainnya. Meski punya tampilan berbeda, mereka sama-sama memiliki keyakinan untuk mengganti sistem monarki dengan negara Islam Syiah.


Meski demikian, ada dua peristiwa besar di luar kendali Banisadr yang mempengaruhi posisinya. Yakni pengambilalihan kedutaan Amerika Serikat di Teheran dan krisis penyanderaan yang terjadi, serta invasi Iran oleh negara tetangga Irak yang dipimpin oleh Saddam Hussein dengan dukungan dari pemerintah asing.

Kekacauan tersebut membuat Banisadr bentrok dengan faksi-faksi di dalam pemerintahan karena sejumlah masalah, termasuk penunjukan kabinet dan visi pemerintahan. Parlemen Islam kemudian memakzulkan Banisadr pada Juni 1981, sehingga masa kepresidenannya berlangsung tak sampai dua tahun.

Banisadr sempat bersembunyi selama beberapa waktu sebelum akhirnya diselundpkan ke luar negeri dengan pesawat terbang, beberapa minggu setelah ia dimakzulkan. Ia sempat membentuk aliansi dengan Masoud Rajavi untuk menentang pemerintah Iran. Mereka mencari perlindungan di Prancis dan mendirikan Dewan Nasional Perlawanan Iran.

Hanya saja, Banisadr kemudian turut berselisih dengan Rajavi dan menuduhnya mendukung ideologi yang menunjukkan kecenderungan kekerasan dan kediktatoran. Banisadr menghabiskan beberapa dekade berikutnya hingga menghembuskan napas terakhir di Prancis dengan perlindungan polisi. Dia tetap menentang para pemimpin Iran dan menerbitkan majalah dan banyak buku.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts