Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merupakan salah satu pejabat pemerintahan Jokowi-Ma'ruf yang mendapat nilai 'D' dan dirasa BEM UI perlu melakukan 'remedial'.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 21 Oktober 2021 - 16:51 WIB
WowKeren - Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) telah memberikan rapor merah untuk dua tahun kepemimpinan Joko Widodo-Ma'ruf Amin. BEM UI juga memberikan nilai "D" dan "E" kepada sejumlah pejabat di era pemerintahan Jokowi-Ma'ruf.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin merupakan salah satu pejabat yang mendapat nilai "D" dan dirasa BEM UI perlu melakukan "remedial". Kementerian Kesehatan lantas buka suara atas penilaian BEM UI tersebut.
Menurut Direktur Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes Siti Nadia Tarmizi, pemberian nilai tersebut merupakan hal yang wajar. Nadia mengatakan bahwa kritik tersebut harus diterima sebagai bentuk evaluasi terhadap kinerja Kemenkes.
"Tentunya masukan dan kritik serta saran dari berbagai elemen masyarakat termasuk dari para mahasiswa merupakan suatu upaya untuk perbaikan ke depan, ya," tutur Nadia kepada CNN Indonesia pada Kamis (21/10).
Lebih lanjut, Nadia memaparkan bahwa Kemenkes sejauh ini telah berupaya maksimal untuk menjalankan strategi pengendalian COVID-19. Mulai dari meningkatkan testing dan tracing, hingga mempercepat program vaksinasi COVID-19. Namun Nadia menilai perbedaan pendapat terkait kinerja Kemenkes di Indonesia merupakan hal yang wajar.
Sementara itu, BEM UI menyoroti sejumlah masalah dalam pengendalian COVID-19 di Indonesia hingga memberi nilai "D" untuk Menkes Budi. Yang pertama adalah ketimpangan cakupan vaksinasi COVID-19 yang masih terjadi, seperti perbedaan antar provinsi yang cukup jauh. Per 20 Oktober 2021, persentase vaksinasi di DKI Jakarta telah mencapai 131,15 persen, sedangkan di Papua masih mencapai 23,98 persen.
Kemudian yang kedua adalah implementasi tracing melalui aplikasi PeduliLindungi dinilai masih bermasalah. BEM UI menilai lemahnya aplikasi PeduliLindungi ini membuat setidaknya 9.855 orang yang positif COVID-19 masih berkeliaran di sejumlah tempat publik.
Terkait kritik tersebut, Nadia hanya menilainya berasal dari sudut pandang berbeda. "Ya, dengan kritik itu, tentunya kita dapatkan dari berbagai sisi pandang yang berbeda, selama prinsipnya membangun dan untuk perbaikan ke depan," pungkasnya.
(wk/Bert)