Pemerintah telah menghapus cuti bersama Nataru. Hal ini dinilai sudah cukup baik, tetapi juga harus dibarengi dengan kebijakan lain agar lebih efektif menekan kasus COVID-19.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 28 Oktober 2021 - 10:17 WIB
WowKeren - Seperti yang diketahui, pemerintah telah menghapus cuti bersama Natal dan Tahun Baru (Nataru) pada 24 Desember 2021. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mencegah kenaikan kasus COVID-19, serta potensi terjadinya gelombang ketiga.
Akan tetapi, pakar menilai bahwa penghapusan cuti bersama Nataru ini harus dibarengi dengan kebijakan lain. Sehingga, kebijakan bisa menjadi lebih efektif dalam menekan laju penularan atau penyebaran COVID-19.
"Ini kan tergantung dari juga adanya intervensi atau kebijakan atau protokol lainnya yang turut mendukung, mengamankan, bersinergi dalam upaya menekan kasus, atau potensi perburukan situasi," ungkap Dicky Budiman seorang peneliti Global Health Security and Policy, Center for Environment and Population Health, Griffith University Australia, kepada Medcom.id, Kamis (28/10).
Lebih lanjut, Dicky menuturkan bahwa pengetatan protokol kesehatan (prokes) harus selalu dioptimalkan lantaran potensi mobilitas masyarakat penduduk bisa terjadi saat libur panjang akhir tahun. Hal ini tentunya bukan hal baik sebab bisa memicu lonjakan kasus hingga menjadi gelombang ketiga COVID-19.
Dicky menuturkan bahwa pengetatan prokes wajib diterapkan di area yang berpotensi menjadi lokasi kerumunan orang. Selain itu, sejumlah lokasi wisata yang menjadi sasaran wisatawan juga harus diperhatikan dan diwaspadai.
Menurut Dicky, pemerintah harus bisa membuat daftar potensi tempat liburan yang aman, selain itu juga harus outdoor, dan sebagainya. "Termasuk persiapan prokes," imbuhnya.
Mengenai langkah pemerintah dalam menghapus cuti bersama Nataru sejak jauh-jauh hari, Dicky memberikan apresiasi. Berkaca dari Tiongkok yang telat dalam membatasi libur dan membuat kasus COVID-19 kembali melonjak. "Kasus COVID-19 Wuhan itu meledaknya juga karena telat pembatasannya, karena orang sudah banyak bergerak," beber Dicky.
Sebelumnya, Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta kepada masyarakat agar tidak bepergian hingga pulang kampung (pulkam) saat libur Nataru. Hal ini semata-mata dilakukan dengan tujuan agar tidak terjadi lonjakan kasus, apalagi gelombang ketiga COVID-19.
(wk/tiar)