Pada Selasa (9/11), Facebook mengungkapkan konten bersifat intimidasi dan pelecehan dapat dilihat antara 14 dan 15 kali per setiap 10.000 tampilan di situs tersebut pada kuartal ketiga.
- Bertilia Puteri
- Rabu, 10 November 2021 - 15:17 WIB
WowKeren - Untuk pertama kalinya, Facebook mengungkapkan prevalensi intimidasi dan pelecehan yang ada di platform-nya. Pada Selasa (9/11), Facebook mengungkapkan konten bersifat intimidasi dan pelecehan dapat dilihat antara 14 dan 15 kali per setiap 10.000 tampilan di situs tersebut pada kuartal ketiga.
Dalam laporan moderasi konten triwulanannya, pihak perusahaan juga mengungkapkan bahwa konten intimidasi dan pelecehan terlihat antara 5 dan 6 kali per 10.000 tampilan konten di Instagram. Namun Facebook mengatakan jumlah intimidasi dan pelecehannya hanya menangkap kasus di mana perusahaan tidak memerlukan informasi tambahan untuk memutuskan apakah konten tersebut melanggar aturannya. Seperti laporan dari pengguna.
Facebook mengklaim telah menghapus 9,2 juta keping konten dari platform-nya karena melanggar aturan intimidasi dan pelecehan. 59,4 persen di antaranya disebut ditemukan oleh perusahaan secara pro-aktif.
"Penindasan dan pelecehan adalah tantangan unik dan salah satu masalah paling kompleks untuk ditangani karena konteksnya sangat penting," tutur kepala keamanan global Facebook Antigone Davis dan direktur manajemen produk Amit Bhattacharyya.
Di sisi lain, raksasa media sosial yang baru-baru ini mengubah namanya menjadi Meta tersebut belakangan menuai sorotan akibat pengakuan salah satu mantan karyawannya, Frances Haugen. Diketahui, Haugen membocorkan dokumen internal yang mencakup penelitian dan diskusi tentang efek Instagram pada kesehatan mental remaja dan apakah Platform Facebook memicu perpecahan.
Menurut Haugen, dokumen tersebut menunjukkan perusahaan mengambil keuntungan atas keselamatan pengguna. Facebook pun telah membantah klaim Haugen dan mengatakan dokumen itu digunakannya untuk melukis "gambar palsu."
Dokumen yang pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal tersebut lantas mendorong seruan agar Facebook lebih transparan. Laporan itu juga menimbulkan pertanyaan apakah metrik seperti prevalensi memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana perusahaan menangani pelanggaran.
Belakangan, Haugen juga sempat memperingatkan ancaman yang bisa timbul dari metaverse. Menurutnya, metaverse yang merupakan dunia realitas virtual yang mencakup segalanya di jantung strategi pertumbuhan raksasa media sosial, akan membuat ketagihan. Dunia virtual ini juga berpotensi mengorek informasi pribadi orang-orang sehingga bisa mendukung Facebook untuk melakukan monopoli online.
(wk/Bert)