Menurut Dalai Lama ke-14 Tibet tersebut, para pemimpin Tiongkok memiliki pemikiran yang sempit ketika mereka tidak bisa menghargai budaya unik di Tibet dan Xinjiang.
- Zodiak Yanuarita
- Kamis, 11 November 2021 - 10:33 WIB
WowKeren - Pemimpin spiritual Tibet, Dalai Lama, mengkritik para pemimpin Tiongkok yang menurutnya kurang memahami arti dari konsep keragaman budaya. Kendati demikian di saat yang sama, ia juga mendukung cita-cita Komunis dan Marxis mereka.
Pernyataan itu disampaikan oleh Dalai Lama ketika menghadiri konferensi pers online yang berlangsung di Tokyo pada hari Rabu (10/11). Menurutnya, para pemimpin Tiongkok memiliki pemikiran yang sempit ketika mereka tidak bisa menghargai budaya unik di Tibet dan Xinjiang.
Ia lebih lanjut mengutarakan persoalan itu berasal dari orang Han yang menurutnya terlalu banyak mengambil kontrol. Ia juga berbicara mengenai para pemimpin setelah tokoh komunis terkemuka Tiongkok Mao Zedong.
Ia pada dasarnya mengakui jika mereka memiliki ide-ide yang bagus. Namun sayangnya, terkadang para pemimpin itu terlalu melakukan kontrol yang ekstrem.
"Saya mengenal para pemimpin Partai Komunis sejak Mao Zedong," lanjutnya. "Ide-ide mereka (adalah) bagus. Tapi terkadang mereka melakukan kontrol yang sangat ekstrim dan ketat."
Seperti diketahui, muslim Uighur di wilayah Xinjiang barat Tiongkok telah menghadapi peningkatan penindasan pemerintah, yang mana hal ini juga telah menjadi sorotan dunia. Bahkan sehari sebelumnya yakni Selasa (9/11), Museum Peringatan Holocaust Amerika Serikat turut prihatin. Mereka mengungkapkan "keprihatinan serius bahwa pemerintah Tiongkok mungkin telah melakukan genosida" terhadap warga Uighur.
Namun, Dalai Lama ke-14 Tibet tersebut tidak menentang "saudara dan saudari Tiongkok" sebagai sesama manusia, terlepas dari kritik itu. Ia bahkan menegaskan masih secara luas mendukung ide-ide di balik Komunisme dan Marxisme.
Diketahui, Beijing telah memerintah wilayah barat yang terpencil itu sejak 1951 khususnya setelah Tentara Pembebasan Rakyatnya mengambil kendali dalam apa yang disebutnya "pembebasan damai". Sejak saat itu, Tibet menjadi salah satu daerah yang paling dibatasi dan sensitif di negara itu.
Sementara itu, Tiongkok menganggap Dalai Lama sebagai separatis yang berbahaya. Dalai Lama sendiri pernah melarikan diri ke India pada tahun 1959 setelah pemberontakan yang gagal melawan pemerintahan Tiongkok.
(wk/zodi)