Melihat fenomena yang ada sampai sekarang termasuk ketika emisi masih meningkat, para negosiator berselisih mengenai sejumlah masalah salah satunya terkait gas rumah kaca.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 12 November 2021 - 09:33 WIB
WowKeren - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Kamis (11/11) menegaskan jika janji-janji iklim dari negara-negara selama pertemuan COP26 tidak akan berjalan lancar jika mereka terus berinvestasi dalam minyak, gas dan batu bara. Seperti diketahui, Komisi Tingkat Tinggi itu berjuang untuk membuat kemajuan dalam menghentikan pemanasan global.
Delegasi dari hampir 200 negara telah bertemu di Glasgow untuk membicarakan upaya menjaga dunia tetap berada di jalur Perjanjian Paris yang membatasi kenaikan suhu antara 1,5 dan 2 derajat Celcius. Namun tampaknya, upaya ini masih memiliki sejumlah masalah.
Melihat fenomena yang ada sampai sekarang ketika emisi masih meningkat dan janji-janji saat ini yang menempatkan dunia pada jalur menuju panas jauh melampaui target itu, para negosiator berselisih mengenai sejumlah masalah. Tak hanya soal memangkas gas rumah kaca namun juga bantuan keuangan bagi negara-negara yang telah mengalami bencana seperti banjir, badai, dan kekeringan. Untuk itu, Guterres mendesak agar para petinggi itu segera mengambil langkah nyata.
"Pengumuman di sini di Glasgow sangat menggembirakan tetapi itu jauh dari cukup," kata Guterres kepada KTT iklim COP26. "Janji menjadi hampa ketika industri bahan bakar fosil masih menerima triliunan subsidi."
Sementara itu, Menteri Inggris Alok Sharma, presiden tuan rumah COP26, mengakui jika masih banyak persoalan yang belum terselesaikan. Ia memperingatkan bahwa waktu hampir habis untuk mencapai kesepakatan sebelum pertemuan itu berakhir hari ini, Jumat (12/11).
"Kami masih memiliki tantangan monumental di depan kami," ujarnya. "Cukup banyak yang telah dicapai. Tetapi kami masih jauh dari menyelesaikan masalah-masalah yang sangat kritis yang masih belum terselesaikan."
Dia juga menyambut pakta bersama Tiongkok-AS untuk mempercepat aksi iklim dekade ini. Deklarasi mengejutkan, yang diungkapkan oleh utusan John Kerry dan Xie Zhenhua, mengatakan dua negara yang merupakan penghasil emisi terbesar di dunia itu "mengakui keseriusan dan urgensi krisis iklim".
Lebih dari 200 ilmuwan telah melayangkan surat terbuka ke KTT itu pada Kamis. Mereka mendesak negara-negara untuk mengambil "tindakan segera, kuat, cepat, berkelanjutan dan skala besar" untuk menghentikan pemanasan global.
(wk/zodi)