Sudah Dapat Izin WHO, Vaksin COVID-19 Pertama yang Dikembangkan di India Disebut 'Sangat Manjur'
Dunia
Vaksin COVID-19

Covaxin yang dikembangkan oleh Bharat Biotech telah memperoleh persetujuan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) minggu lalu. Vaksin itu juga sudah diizinkan untuk dipakai di 17 negara.

WowKeren - Vaksin virus corona (COVID-19) pertama yang dikembangkan di India, Covaxin, disebut "sangat manjur" dan tidak menimbulkan masalah keamanan. Klaim ini didasarkan pada penelitian yang diterbitkan di Lancet pada Kamis (11/11).

Adapun Covaxin yang dikembangkan oleh Bharat Biotech telah memperoleh persetujuan darurat dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) minggu lalu. Vaksin itu juga sudah diizinkan untuk dipakai di 17 negara.

WHO menilai vaksin buatan India tersebut "sangat cocok untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah" karena penyimpanannya yang mudah. Diketahui, beberapa vaksin COVID-19 lain harus disimpan pada suhu yang sangat rendah sehingga menimbulkan masalah logistik dan biaya.

Laporan tersebut menyatakan Covaxin "sangat manjur terhadap penyakit COVID-19 bergejala yang dikonfirmasi laboratorium pada orang dewasa". Suntikan vaksin itu juga disebut ditoleransi dengan baik tanpa masalah keamanan yang diangkat dalam analisis sementara ini.


Menurut WHO, tingkat kemanjuran Covaxin mencapai 78 persen. Vaksin Covaxin pun kini bergabung dengan Vaksin COVID-19 yang diproduksi oleh Pfizer/BioNTech, Moderna, AstraZeneca, Johnson&Johnson, Sinopharm dan Sinovac dalam daftar yang disetujui WHO.

Peneliti Tiongkok yang tidak ambil bagian dalam penelitian ini, Li Jingxin Li dan Zhu Fengcai, menilai peluncuran Covaxin dapat meningkatkan kapasitas produksi global yang terbatas. Peluncurannya juga bisa meningkatkan pasokan vaksin yang tidak mencukupi yang secara tidak proporsional mempengaruhi negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Namun kedua peneliti tersebut mengungkapkan keterbatasan dalam penelitian Covaxin ini. Yakni uji coba dilakukan hanya di India yang kurang beragam secara etnis. Penelitian juga dilakukan antara November 2020 dan Januari 2021, sebelum varian virus Delta yang lebih menular menyebar luas.

Meski demikian, terlepas dari tanggal uji cobanya, para peneliti yang terlibat dapat mengidentifikasi pasien mana yang terinfeksi varian Delta. Untuk sub-kelompok Varian Delta ini penelitian menemukan bahwa Covaxin masih memberikan perlindungan terhadap COVID, tetapi sedikit kurang efektif.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts