Para delegasi negara tengah berupaya untuk menyudahi penggunaan batu bara dalam konferensi tersebut. Namun tampaknya, hal itu sangat sulit dilakukan oleh India dan Tiongkok
- Zodiak Yanuarita
- Senin, 15 November 2021 - 11:47 WIB
WowKeren - Presiden COP26 Alok Sharma mengungkapkan bahwa dirinya sangat frustrasi dengan dua negara di Konferensi Tingkat Tinggi Perubahan Iklim Glasgow. Adalah India dan Tiongkok, yang menurut Sharma perlu menjelaskan kepada negara-negara berkembang mengapa mereka mendorong untuk memperlunak bahasa pada upaya untuk menghapus batubara pada konferensi COP26.
Kepada Guardian, ia mengatakan bahwa para delegasi negara tengah berupaya untuk menyudahi penggunaan batu bara dalam konferensi tersebut. Namun tampaknya, hal itu sangat sulit dilakukan oleh India dan Tiongkok.
"Kami sedang dalam perjalanan untuk menjadikan batu bara tinggal sejarah. Ini adalah kesepakatan yang bisa kita bangun," ujarnya melansir Guardian. "Tetapi dalam kasus Tiongkok dan India, mereka harus menjelaskan kepada negara-negara yang rentan terhadap iklim mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan."
Sementara itu, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengatakan bahwa kesepakatan Glasgow menjadi peringatan untuk mengakhiri penggunaan tenaga batu bara. "Konferensi menandai awal dari akhir untuk batubara. Untuk pertama kalinya, konferensi menerbitkan mandat untuk memotong penggunaan tenaga batu bara." ujarnya pada konferensi pers di Downing Street pada, Minggu (14/11).
Pada tahap penutupan KTT COP26, Sharma mengungkapkan kekhawatiran jika kesepakatan itu akan hilang ketika Tiongkok dan India berusaha untuk membuka kembali teks kesepakatan dengan menolak komitmen untuk "menghapus" penggunaan batu bara. Sebab, keduanya sangat bergantung pada tenaga tersebut.
Mereka malah mengusulkan "penurunan bertahap" yang sedikit lebih lemah, yang menyiratkan bahwa mereka masih bisa terus menggunakan batu bara dalam beberapa cara. Sharma pun tampaknya terpaksa menerima usulan tersebut sebab menurutnya itu lebih baik dari pada tidak ada kesepakatan sama sekali.
"Itu adalah pandangan saya bahwa jika tidak, kita mungkin akan berakhir tanpa kesepakatan sama sekali," lanjutnya. "Kerja keras kami selama dua tahun akan sia-sia, dan tidak akan menunjukkan apa-apa untuk negara-negara berkembang."
Sebelumnya, diberitakan jika KTT itu terpaksa diperpanjang lantaran belum bisa menghasilkan kesepakatan ketika jatuh tempo. Adapun permasalahan yang dihadapi terkait batu bara dan bahan bakar fosil.
(wk/zodi)