Baru-baru ini, diketahui terjadi sebuah insiden antara Kapal Pasokan Filipina dengan kapal penjaga pantai Tiongkok. Atas insiden ini, lantas memicu protes dari Filipina.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 18 November 2021 - 12:54 WIB
WowKeren - Pada Kamis (18/11), kapal penjaga pantai Tiongkok diketahui memblokir dan menggunakan meriam air pada dua kapal pasokan Filipina saat hendak menuju ke daerah sengketa yang diduduki oleh Marinir Filipina di Laut China Selatan. Hal ini lantas memicu kemarahan dari Filipina terhadap Tiongkok.
"Peringatan dari pemerintah Filipina bahwa kapal-kapalnya tercakup dalam perjanjian pertahanan bersama dengan Amerika Serikat (AS)," tutur Diplomat Tinggi Manila, Kamis (18/11).
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Filipina, Teodoro Locsin Jr. mengatakan bahwa tidak ada yang terluka dalam insiden di perairan yang disengketakan pada Selasa (16/11) lalu. Akan teapi, dua kapal pemasok tersebut harus membatalkan misi mereka untuk menyediakan pasokan makanan kepada pasukan Filipina yang menduduki Beting Thomas Kedua yang terletak di lepas Palawan Barat, Provinsi di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Filipina, dan diakui secara interasional.
Lebih lanjut, Locsin mengatakan bahwa tindakan tiga kapal penjaga pantai Tiongkok itu ilegal dan dia mendesak mereka "untuk memperhatikan dan mundur". "Pemerintah Filipina telah menyampaikan kepada Tiongkok akan kemarahan, kecaman, dan protes kami atas insiden tersebut," tegas Locsin.
"Kegagalan untuk menahan diri ini mengancam hubungan khusus antara Filipina dan Tiongkok, bahwa Presiden Rodrigo Duterte dan mitranya dari Tiongkok, Xi Jinping, telah bekerja keras untuk mengasuh," lanjut Locsin.
Locsin mengatakan bahwa insiden "bentrokan" yang terjadi di dekat Ayungin Shoal itu tidak menyebabkan adanya korban. "Tiongkok tidak memiliki hak penegakan hukum di dalam dan di sekitar wilayah ini, mereka harus waspada dan mundur," papar Locsin.
Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan Filipina, Karlo Nograles menyatakan bahwa Duterte mendukung tanggapan cepat Kementerian Luar Negeri atas insiden tersebut. "Kami akan menegaskan kedaulatan, hak berdaulat, dan yuridiksi kami atas wilayah kami," terang Nograles.
Sebagai informasi, pada awal Tahun 2021, Filipina mengeluhkan keberadaan puluhan kapal selama berminggu-minggu dari apa yang disebut dengan "milisi maritim" Tiongkok di Whitsun Reef, yang terletak sekitar 320 kilometer (175 mil laut) barat Pulau Palawan dalam ZEE-nya.
Sebelumnya, pada tahun 2012 silam, Tiongkok disebut secara paksa mengambil alih Scarborough Shoal yang terletak di 229 km (124 mil laut), barat Pulau Luzon, Filipina.
(wk/tiar)