Ongkos Kirim Melonjak, PBB Ingatkan Kenaikan Harga di Tahun 2022
pixabay.com/Ilustrasi/hunt-er
Dunia

Badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD) mengatakan bahwa antara saat ini hingga tahun 2023 nanti, tingkat harga impor global dapat meningkat sebesar 11 persen.

WowKeren - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada Kamis (18/11) memperingatkan bahwa harga barang bagi konsumen bisa meningkat di tahun 2022 mendatang. Hal itu tak lepas dari adanya lonjakan tarif pengiriman terhadap peti kemas.

Badan perdagangan dan pembangunan PBB (UNCTAD) mengatakan bahwa antara saat ini hingga tahun 2023 nanti, tingkat harga impor global dapat meningkat sebesar 11 persen dan tingkat harga konsumen sebesar 1,5 persen. Dalam laporan Tinjauan Transportasi Maritim 2021, UNCTAD mengatakan bahwa kenaikan itu hanya akan mulai berkurang ketika persoalan pada rantai pasokan benar-benar ditangani.

"Harga konsumen global akan naik secara signifikan di tahun depan," kata mereka. "Sampai gangguan rantai pasokan pengiriman diblokir dan kendala pelabuhan dan inefisiensi terminal ditangani."

Rantai pasokan global telah menghadapi permintaan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari paruh kedua tahun 2020 dan seterusnya. Hal ini terjadi lantaran konsumen lebih banyak membelanjakan uang mereka untuk barang daripada jasa selama penguncian virus corona berlangsung di mana-mana.


Namun, permintaan yang meningkat itu menghadapi sejumlah persoalan. Tak hanya terkait pembatasan COVID-19 itu sendiri, halangan juga berupa kendala praktis seperti daya dukung kapal peti kemas, kekurangan peti kemas dan tenaga kerja, hingga kemacetan yang terjadi di pelabuhan. Menurut laporan itu, ketidaksesuaian tersebut menyebabkan tarif kargo kontainer mencapai rekor di hampir semua rute perdagangan kontainer.

"Lonjakan tarif pengiriman saat ini akan berdampak besar pada perdagangan," kata Rebeca Grynspan, sekretaris jenderal UNCTAD. "Dan melemahkan pemulihan sosial ekonomi, terutama di negara berkembang, hingga operasi pelayaran laut kembali normal."

Sehingga untuk bisa memulihkannya, hal itu memerlukan solusi yang mampu memberikan dampak signifikan. Solusi ini meliputi infrastruktur hingga digitalisasi terhadap fasilitas perdagangan.

"Kembali ke normal akan memerlukan investasi untuk solusi baru," lanjutnya. "Termasuk infrastruktur, teknologi pengiriman dan digitalisasi serta langkah-langkah untuk memfasilitasi perdagangan."

(wk/zodi)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait