Kondisi perekonomian Lebanon saat ini diketahui tengah mengalami keterpurukan. Akibatnya, segala sektor terkena dampaknya, termasuk kesehatan yang semakin terpuruk.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Jumat, 19 November 2021 - 17:12 WIB
WowKeren - Selama enam bulan terakhir, Rumah Sakit Universitas Rafik Hariri di Beirut diketahui telah berjuang menghadapi pemadaman listrik, kekurangan obat-obatan, serta gelombang pasang staf medis yang berimigrasi untuk mendapatkan kesempatan kerja yang lebih baik.
Akan tetapi, tampaknya kesengsaraan dokter di Lebanon itu bertambah. Melansir Al Jazeera, kini sebagian subsidi obat-obatan juga dicabut. Hal ini membuat para dokter di fasilitas yang dikelola pemerintah di Ibu Kota Lebanon semakin mengkhawatirkan lantaran kondisinya yang terburuk.
"Kita bisa memperkirakan lonjakan kematian," terang Dr Mahmoud Hassoun selaku Kepala Petugas Medis Rumah Sakit kepada Al Jazeera. "Bagaimana Anda bisa merawat pasien, ketika ada obat mahal yang tidak bisa Anda sediakan?"
Sementara itu, Menteri Kesehatan, Firas Abiad, pada awal bulan November lalu, mengumumkan bahwa sebagian subsidi obat-obatan dicabut, termasuk obat untuk penyakit kronis. Akibatnya, harga obat-obatan menjadi lebih mahal, serta memperburuk krisis medis yang telah melumpuhkan sistem perawatan Lebanon yang rapuh.
Masih melansir Al Jazeera, diketahui harga satu obat hipertensi naik 9 kali lipat. Sementara untuk obat-obatan lain, seperti yang diresepkan untuk kondisi kesehatan mental, seperti depresi dan skizofrenia, saat ini harganya naik menjadi 3 kali lipat lebih mahal. Hal ini berdasarkan keterangan dari Organisasi Nirlaba Lebanon Embrace.
Lebih lanjut, Hassoun menerangkan bahwa rumah sakit harus terus mengandalkan dukungan terhadap LSM mengenai persediaan dan memprioritaskan beberapa pasien daripada yang lainnya. Legislator Bilal Abdullah yang juga anggota Komite Kesehatan Parlemen mengungkapkan bahwa Bank Sentral biasanya menyediakan sekitar USD120 juta untuk subsidi medis setiap bulannya.
Tetapi saat ini, hanya bisa mengalokasikan sekitar USD35 juta. Menurut Hassoun, Lebanon sudah mengalami krisis ekonomi yang memberatkan, serta telah menyelipkan sekitar 3/4 populasi ke dalam kemiskinan.
Selain itu, Pound Lebanon, hanya dalam kurun waktu 2 tahun, telah kehilangan sekitar 90 persen nilainya terhadap Dolar Amerika Serikat (AS). Sementara untuk kelumpuhan politik yang sedang berlangsung telah menghentikan harapan pemulihan ekonomi dalam waktu dekat, termasuk sektor kesehatan yang sangat terpukul.
(wk/tiar)