Badan Obat Eropa (EMA) mengatakan jika obat ini bisa digunakan untuk mengobati orang dewasa yang tidak membutuhkan dukungan oksigen dan berisiko terkena penyakit parah.
- Zodiak Yanuarita
- Sabtu, 20 November 2021 - 14:15 WIB
WowKeren - Pengawas obat-obatan Uni Eropa telah menyarankan negara-negara anggotanya untuk menggunakan pil antivirus COVID-19 buatan Merck. Obat ini dianggap berpotensi sebagai terobosan dalam situasi darurat yang dipicu oleh melonjaknya tingkat infeksi.
Rekomendasi itu datang sebelum persetujuan resmi diberikan untuk seluruh wilayah. Molnupiravir, yang diproduksi oleh Merck and Ridgeback Biotherapeutics, dapat diberikan dalam waktu lima hari sejak munculnya gejala pertama.
Badan Obat Eropa (EMA) dalam sebuah pernyataan pada hari Jumat (19/11) mengatakan jika obat ini bisa digunakan untuk mengobati orang dewasa yang tidak membutuhkan dukungan oksigen dan berisiko terkena penyakit parah. Badan tersebut telah menyatakan rekomendasinya untuk mendukung otoritas nasional yang mungkin tertarik untuk menyebarkan pil tersebut dengan nama Lagevrio di Eropa, sebelum mendapatkan otorisasi penuh dari regulator.
Sebagaimana diketahui, tingkat infeksi corona di sejumlah negara Eropa kembali mengalami peningkatan. Beberapa di antaranya termasuk Jerman, belanda, Austria, dan Hongaria. Hal itu membuat pemerintah setempat khawatir ketika musim dingin datang nantinya di mana mereka akan sulit untuk menerapkan kembali pembatasan yang diperlukan untuk mencegah penyebaran virus.
Data bulan lalu menunjukkan bahwa molnupiravir dapat mengurangi separuh risiko kematian atau perawatan rumah sakit bagi mereka yang paling berisiko mengembangkan COVID-19 parah ketika obat diberikan di awal penyakit menjangkit. Sejak saat itu, obat tersebut terus diawasi dengan ketat.
Obat ini dirancang untuk memasukkan kesalahan ke dalam kode genetik virus yang menyebabkan COVID-19 dan diminum dua kali sehari selama lima hari. Merck mengklaim bahwa pengurutan virus yang dilakukan sejauh ini telah menunjukkan bahwa obat mereka efektif terhadap semua varian virus corona, termasuk strain Delta yang sangat menular.
Sebelum ini, Inggris telah menjadi negara pertama di dunia yang memberi lampu hijau untuk penggunaan pil tersebut pada awal November. Badan Pengatur Obat dan Produk Kesehatan Inggris (MHRA) merekomendasikan agar obat tersebut diberikan sesegera mungkin setelah tes COVID-19 menyatakan hasil positif, dan dalam waktu lima hari sejak timbulnya gejala.
(wk/zodi)