Malikah Shabazz Putri Malcolm X Ditemukan Tewas di Rumahnya, Polisi Sebut Tak Ada yang Mencurigakan
New York Daily News/Andrew Theodorakis
Dunia

Tubuh tak bernyawa Shabazz ditemukan di rumahnya di Brooklyn pada Senin (22/11) oleh putrinya, sebagaimana disampaikan oleh Departemen Kepolisian New York.

WowKeren - Putri pemimpin hak-hak sipil kulit hitam Malcolm X, Malikah Shabazz, ditemukan tewas di rumahnya di New York City. Tubuh tak bernyawa Shabazz ditemukan di rumahnya di Brooklyn pada Senin (22/11) oleh putrinya, sebagaimana disampaikan oleh Departemen Kepolisian New York.

Pihak berwenang mengatakan tidak ada hal-hal yang mencurigakan terkait kematiannya. Bernice King, putri pemimpin hak-hak sipil Martin Luther King Jr. turut menyampaikan bela sungkawa atas kematian Shabazz. Hal itu ia sampaikan melalui unggahan di akun Twitter miliknya.

"Saya sangat sedih dengan kematian (Malikah Shabazz)," kata Bernice pada Selasa (23/11). "Hati saya tertuju pada keluarganya, keturunan Dr. Betty Shabazz dan Malcolm X."

Diketahui, Istri Malcolm X, Betty Shabazz sedang mengandung Malikah dan saudara kembarnya Malaak ketika sosok pejuang hak-hak sipil itu ditembak mati di sebuah acara ceramah di New York City pada tahun 1965 silam. Kematian Shabazz terjadi hanya beberapa hari setelah pembunuhan ayahnya menjadi berita.


Dua orang yang telah dihukum dalam pembunuhannya dibebaskan setelah dua tahun dilakukan investigasi ulang atas kejahatan tersebut. Betty Shabazz, yang memiliki enam anak dengan Malcolm X, meninggal pada 1997 silam.

Sebelumnya pada Kamis (18/11), seorang hakim New York membebaskan dua orang yang dihukum secara salah karena membunuh Malcolm X pada tahun 1965. Hakim Mahkamah Agung Negara Bagian Ellen Biben mengeluarkan pembebasan untuk Muhammad A. Aziz dan Khalil Islam setelah Jaksa Distrik Manhattan Cy Vance Jr. mengajukan mosi untuk mengosongkan hukuman.

Kedua pria itu menjalani hukuman sekitar 20 tahun penjara dan dibebaskan pada pertengahan 1980-an, tetapi Islam mati pada 2009. Aziz mengatakan pembebasan itu tidak bisa menghapus dekade hidupnya yang hilang.

"Pengadilan atas diri saya yang salah adalah ketidakadilan mengerikan yang dihasilkan dari tindakan pejabat korup yang disengaja dan tidak jujur," kata Aziz dalam sebuah pernyataan. "Itu telah menyebabkan kerugian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata bagi saya dan keluarga saya."

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts