Alasan PM Wanita Pertama Swedia Mengundurkan Diri Beberapa Jam Setelah Terpilih
TT news Agency/AFP/Jessica Gowt
Dunia

Penunjukkan Magdalena Andersson sebagai Perdana Menteri Swedia sebelumnya telah menandai tonggak sejarah bagi negara tersebut karena ini merupakan pertama kalinya wanita menduduki jabatan politik teratas.

WowKeren - Perdana Menteri wanita pertama Swedia, Magdalena Andersson, telah mengundurkan diri usai menjabat posisi tersebut kurang dari 12 jam. Andersson resign usai Partai Hijau keluar dari koalisi dua partai mereka dan memicu ketidakpastian politik.

Adapun Partai Hijau mundur dari koalisi tersebut usai parlemen menolak RUU anggaran mereka. Namun Andersson mengaku telah menyampaikan kepada ketua parlemen bahwa ia berharap bisa kembali diangkat menjadi Perdana Menteri sebagai kepala pemerintahan satu partai.

"Saya telah meminta kepada ketua parlemen untuk dibebaskan dari tugas saya sebagai perdana menteri," kata Andersson dalam konferensi pers. "Saya siap menjadi perdana menteri dalam satu partai, pemerintahan Sosial Demokrat."

Partai Hijau menyatakan akan mendukung Andersson dalam setiap pemungutan suara konfirmasi baru di parlemen. Sedangkan Partai Tengah berjanji untuk abstain, yang dalam praktiknya sama dengan mendukung pencalonan Andersson. Sedangkan Partai Kiri menyatakan akan mendukung Andersson.

Sebelumnya, proposal anggaran pemerintah ditolak di parlemen. Pemungutan suara menghasilkan vote 154-143 yang mendukung proposal anggaran oposisi.


Ketua parlemen Andreas Norlen lantas menyatakan akan menghubungi delapan pemimpin partai Swedia untuk membahas situasi tersebut. Norlen akan mengumumkan langkah selanjutnya untuk parlemen pada Kamis (25/11).

Sementara itu, Andersson sendiri menyatakan bahwa pemerintah koalisi harus mengundurkan diri jika sebuah partai memilih untuk meninggalkan pemerintah. "Terlepas dari kenyataan bahwa situasi parlemen tidak berubah, itu perlu dicoba lagi," tuturnya.

Adapun penunjukkan Andersson sebagai PM Swedia sebelumnya telah menandai tonggak sejarah bagi negara tersebut. Swedia sendiri dipandang sebagai salah satu negara paling progresif terkait hubungan gender di Eropa, namun belum pernah memiliki wanita yang mengisi posisi politik teratas.

Sebelumnya di parlemen, sebanyak 117 orang memberikan suara "Ya" bagi Andersson. Sedangkan 174 orang menolak pengangkatannya, 57 orang abstain, dan satu orang tak hadir.

Di bawah Konstitusi Swedia, perdana menteri dapat ditunjuk dan memerintah selama mayoritas parlemen - minimal 175 anggota parlemen - tidak menentang mereka. Adapun Pemilihan umum Swedia berikutnya akan dijadwalkan pada 11 September 2022.

(wk/Bert)

You can share this post!

Related Posts