Banyak Negara Eropa dan Asia Khawatirkan Varian Botswana, Putuskan Perketat Perbatasan
Dunia

Temuan varian COVID-19, Botswana di Afrika Selatan pada awal pekan ini, menjadi perhatian secara global. Banyak negara, baik di Eropa maupun Asia, yang saat ini kembali memperketat pembatasan.

WowKeren - Dunia saat ini tengah menyoroti mutasi COVID-19 yang ditemukan di Afrika Selatan yakni B.1.1.529 atau varian Botswana. Sebelumnya, peneliti Inggris mengatakan bahwa varian COVID-19 itu memiliki banyak mutasi, bahkan bisa menurunkan efikasi vaksin.

Sementara itu, mengetahui adanya varian Botswana, banyak negara Eropa dan Asia yang kini menerapkan pengetatan pembatasan perjalanan internasional. Adapun negara yang telah menerapkan pengetatan pembatasan perjalanan internasional adalah Uni Eropa, Inggris, dan India yang mengumumkan kontrol perbatasan lebih ketat pada Jumat (26/11).

Saat ini, Inggris telah melarang penerbangan dari Afrika Selatan dan negara-negara tetangga, serta meminta para pelancong yang kembali dari negara bersangkutan, untuk melaksanakan karantina. Sementara itu, Kepala Komisi Eropa Ursula von der Leyen mengatakan bahwa UE juga memiliki tujuan untuk menghentikan perjalanan udara dari wilayah tersebut.

"Varian tersebut (Botswana) memiliki potensi lonjakan yang secara dramatis berbeda dengan yang ada pada virus COVID-19 asli yang menjadi dasar vaksin COVID-19," bunyi pernyataan Badan Keamanan Kesehatan Inggris. Pihaknya mengatakan bahwa varian ini menimbulkan kekhawatiran tentang bagaimana vaksin saat ini yang telah berhasil melawan varian Delta, justru menurun karena varian Botswana.


Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan mengadakan pertemuan di Jenewa, dan para ahli akan membahas terkait dengan risiko yang ditimbulkan oleh varian Botswana. Nantinya varian COVID-19 tersebut akan dikelompokkan apakah masuk sebagai Variant of Interest (VoI) atau Variant of Concern (VoC).

"Hampir 100 urutan varian telah dilaporkan, dan analisis awal menunjukkan ia memiliki sejumlah besar mutasi yang memerlukan studi lebih lanjut," ungkap Juru Bicara WHO, Christian Lindmeier.

Sementara itu, salah seorang ahli epidemiologi dari Universitas Hong Kong, Dr Ben Cowling mengatakan bahwa mungkin sudah terlambat untuk memperketat pembatasan perjalanan. "Saya pikir kita harus menyadari bahwa kemungkinan besar virus ini sudah ada di tempat lain, jadi jika kita menutup pintu sekarang, mungkin sudah terlambat," terang Cowling.

Di sisi lain, hingga sat ini, para ilmuwan masih mempelajari varian Botswana yang pertama kali diidentifikasi ada awal pekan ini di Afrika Selatan. Akibatnya, juga berpengaruh pada pasar saham di Asia yang mengalami penurunan.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts