Jalur kereta api yang baru ini mencakup 167 jembatan dan 75 terowongan dan kereta yang bergerak dengan kecepatan tertinggi 99 mph, dan diluncurkan pada Jumat (3/12).
- Zodiak Yanuarita
- Selasa, 07 Desember 2021 - 17:20 WIB
WowKeren - Laos telah membuka jalur kereta api berkecepatan tinggi senilai 5,6 miliar dolar AS pada Jumat (3/12). Jalur kereta yang bernilai miliaran dolar tersebut membentang antara daerah pegunungan Laos dan Tiongkok selatan.
Para pejabat berharap agar dengan dibukanya rute baru ini dapat membantu meningkatkan perdagangan antara kedua negara. Jalur kereta sepanjang 642 mil akan mengangkut penumpang antara ibukota Laos Vientiane dan Kunming di barat daya Tiongkok.
Beijing membayar sebagian besar dari biaya 5,9 miliar dolar itu untuk sistem transit baru, yang pertama kali dibangun pada enam tahun lalu. Adapun maksud Tiongkok membangun sistem transit ini adalah sebagai bagian dari rencana untuk menghubungkan bagian daratan yang belum berkembang dengan pelabuhan sibuk di luar negeri.
Jalur kereta api yang baru ini mencakup 167 jembatan dan 75 terowongan dan kereta bergerak dengan kecepatan tertinggi 99 mph. Dengan adanya kereta yang beroperasi ini maka dapat memotong waktu transit dari ujung ke ujung yang semula memerlukan waktu 15 jam kini menjadi hanya empat jam.
Perjalanan kereta pertama diluncurkan pada Jumat setelah jalur tersebut diberkati oleh para biksu Buddha. Perdana Menteri Laos Phankham Viphavanh adalah penumpang pada operasi pertama tersebut.
Pembukaan ini merupakan langkah kunci untuk proyek Belt and Road Initiative Tiongkok yang diharapkan dapat mengantarkan gelombang baru perdagangan dan pariwisata ke salah satu negara termiskin di Asia Tenggara. Laos berharap kereta api akan membantu mengubah ekonominya.
Negara tersebut juga telah berkomitmen untuk menutup 30 persen dari biaya proyek itu. Sedangkan sebagian besar dari jumlah tersebut didukung oleh pinjaman dari Tiongkok dengan jaminan tanah dan sumber daya alam.
Utang ini bukan satu-satunya proyek Laos yang dijalankan dengan mengutang pada Tiongkok. Negara tersebut juga telah meminjam dari Negeri Tirai Bambu untuk proyek lainnya sehingga di lain sisi mereka juga khawatir akan utang yang terus membayangi.
(wk/zodi)