Pakar Gestur Handoko Gani menganalisis respons Presiden Joko Widodo terhadap kritik yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Anwar Abbas.
- Bertilia Puteri
- Senin, 13 Desember 2021 - 14:49 WIB
WowKeren - Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menjawab langsung kritik yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas. Dalam kesempatan tersebut, Jokowi memberikan penjelasan kepada Anwar Abbas terkait ketimpangan di sektor pertanahan.
Pakar Gestur Handoko Gani lantas mengungkapkan tiga ucapan Jokowi yang dianggap menjadi pertanda marah ke Anwar Abbas. Yang pertama adalah panggilan "Dr Buya Anwar Abbas" yang diucapkan Jokowi dalam momen Kongres Ekonomi Umat Islam II tersebut. Menurut Handoko, panggilan "Buya" bisa berarti penghormatan, namun juga bisa memiliki makna sindiran.
"Jadi panggilan sosial punya dua kegunaan. Mengenai panggilan sosial terhadap buya, kalau saya lihat dalam hal ini Pak Jokowi menghormati beliau, tetapi juga ada kemarahan terhadap beliau. Jadi dengan kata lain, sebetulnya kata buya ini menunjukkan penghormatan sekaligus menunjukkan kemarahan atas kritikan atau sindiran yang dilakukan oleh beliau (Anwar Abbas)," jelas Handoko, dilansir dari detikcom pada Minggu (12/12).
Setelah itu, Handoko juga menyoroti pemilihan kata yang digunakan Jokowi untuk menggambarkan sesuatu. Menurutnya, cara Jokowi menyampaikan "momen tepat" justru menunjukkan kritik itu tidak tepat disampaikan dalam forum tersebut.
"Ini juga nampak jelas dari beberapa pilihan kata dan bagaimana kata itu digunakan. Salah satunya saat beliau (Jokowi) jeda sebelum mengatakan 'momen yang tepat ini'. Itu sebetulnya di pikiran Pak Jokowi, saya rasa sekaligus ingin menyatakan, 'ih kok, kalau mau kritik kok di sini, ini bukan tempat yang tepat'," paparnya.
Menurut Handoko, gestur tersebut menunjukkan bahwa Jokowi marah. Hal ini dapat dilihat dari kecepatan suara Jokowi yang lebih cepar dibanding normal. "Dan kita juga melihat tatanan kalimat yang lain suaranya tak secepat di kalimat pertama ini," tambahnya.
Lalu yang ketiga, pertanda amarah dinilai terlihat dalam ucapan Jokowi, "dipikir saya enggak kepikiran". Diketahui, Jokowi menyebutkan hal tersebut kala dipertanyakan terkait gap ratio.
"Ada sebuah kalimat di terakhir itu mengatakan, 'dipikir saya enggak kepikiran'. Ini sekali lagi ini menunjukkan betapa Pak Jokowi ini marah dalam conference tersebut, 'dipikir saya enggak kepikiran'. Ini sebuah kata yang keras, yang menjawab langsung apa yang sebelumnya disampaikan," pungkasnya.
(wk/Bert)