Negara Kaya 'Percepat' Dosis Tambahan Vaksin, WHO Ingatkan Ketidakadilan Bisa Perpanjang Pandemi
Dunia

WHO kembali menyinggung mengenai isu ketidakadilan akses vaksin COVID-19 yang menimpa negara-negara berpenghasilan rendah. WHO lantas meminta untuk memprioritaskan memvaksin kelompok rentan.

WowKeren - Saat ini, banyak negara kaya yang diketahui tengah "terburu-buru" untuk mempercepat pemberian dosis vaksin COVID-19 tambahan. Hal ini lantas menjadi sorotan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kepala WHO memberikan peringatan bahwa sikap "terburu-buru" negara kaya dalam meluncurkan dosis vaksin COVID-19 tambahan itu bisa semakin memperdalam ketidakadilan dalam akses, sehingga berdampak ke pukulan yang memperpanjang pandemi.

Pada Rabu (22/12), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus bersikeras meminta agar vaksinasi diprioritaskan untuk orang-orang yang rentan, daripada memberikan dosis tambahan kepada mereka yang telah divaksin.

Seperti yang diketahui, WHO telah lama mengecam ketidakadilan yang mencolok dalam akses ke vaksin COVID-19 antara negara kaya dengan berkembang. "Tidak ada negara yang dapat meningkatkan jalan keluar dari pandemi," tutur Tedros dalam keterangan dilansir dari Al Jazeera, Kamis (23/12).

Lebih lanjut, Tedros menuturkan bahwa dengan tidak memberikan vaksin COVID-19 terhadap orang-orang rentan, sama saja dengan membiarkan virus menyebar tanpa henti di beberapa tempat. Dengan demikian, secara dramatis meningkatkan kemungkinan munculnya varian baru COVID-19 yang lebih berbahaya.


"Program penguat selimut kemungkinan akan memperpanjang pandemi, daripada mengakhirinya, dengan mengalihkan pasokan ke negara-negara yang sudah memiliki cakupan vaksinasi tingkat tinggi, memberi virus lebih banyak kesempatan untuk menyebar dan bermutasi," papar Tedros.

Masih melansir Al Jazeera, Tedros mengatakan bahwa prioritas bagi negara saat ini adalah mengurangi angka kematian dan membantu semua negara memenuhi target vaksinasi minimum yang masih banyak belum tercapai. "WHO mencatat bahwa sebagian rawat inap dan kematian terjadi pada orang yang tidak divaksinasi, bukan orang yang divaksinasi," ungkap Tedros.

Tedros lantas menyebut bahwa seruannya pada beberapa waktu lalu untuk moratium dosis booster untuk orang yang telah divaksin sampai setidaknya 40 persen orang di semua negara menerima suntikan pertama sia-sia. Ia menunjukkan sementara cukup banyak vaksin telah diberikan kepada masyarakat secara global di tahun 2021 untuk mencapai target tersebut, distorsi dalam pasokan global berarti hanya separuh negara di dunia yang melakukannya.

Tedros mengungkapkan, menurut angka PBB, sekitar 67 persen orang di negara-negara kaya telah memiliki setidaknya satu dosis vaksin, tetapi bahkan tidak 10 persen di negara-negara berpenghasilan rendah. "Terus terang sulit untuk memahami bagaimana setahun sejak vaksin pertama diberikan, tiga dari empat petugas kesehatan di Afrika tetap tidak divaksinasi," ungkapnya.

Tedros lantas memperbarui seruan bagi produsen dan negara-negara lain untuk memprioritaskan program COVAX untuk memberikan dosis ke negara yang lebih membutuhkan. "Bekerja sama untuk mendukung mereka yang tertinggal, kecuali kita memvaksinasi seluruh dunia, saya tidak berpikir kita bisa mengakhiri pandemi ini," tandas Tedros.

(wk/tiar)

Follow Berita WowKeren.com di Google News

You can share this post!

Berita Terkait