Sebagai informasi, Israel disebut menjadi negara pertama di dunia yang memberikan dosis keempat vaksin COVID-19. Kini Thailand tampaknya juga menawarkan untuk memberikan dosis keempat.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 23 Desember 2021 - 11:00 WIB
WowKeren - Sebelumnya, Perdana Menteri Israel Naftali Bennett menyatakan bahwa warga yang berusia 60 tahun ke atas dan tenaga kesehatan akan bisa mendapatkan vaksinasi COVID-19 dosis keempat. Bahkan seorang Juru Bicara menyebut Israel akan menjadi negara pertama di dunia yang memberikan dosis keempat vaksin COVID-19.
Kini, Kementerian Kesehatan Masyarakat Thailand kini menuturkan bahwa pihaknya siap menawarkan suntikan COVID-19 dosis keempat yang ditujukan sebagai penguat bagi staf medis, petugas kesehatan masyarakat garis depan, dan orang-orang dengan kekebalan rendah. Hal ini disampaikan oleh sub komite kekebalan.
Melansir Bangkok Post, sub panel yang dipimpin oleh Kepala Departemen Pengendalian Penyakit Dr Opas Kankawinpong pada Rabu (22/12), memutuskan tentang perlunya booster tambahan. Adapun resolusi sub komite ini akan dikirim ke komite nasional penyakit menular besok untuk keputusan.
Sementara itu, Dr Opas mengatakan bahwa booster harus berbasi mRNA atau vaksin berbasis vektor virus untuk meningkatkan kekebalan. Menurutnya, kelompok yang harus mendapatkan dosis keempat saat ini adalah staf medis dan mereka yang memiliki kondisi kesehatan yang mengakibatkan tingkat kekebalan rendah.
Kemudian, Dr Opas menuturkan bahwa bagi mereka yang telah menerima dua dosis vaksin Sinovac yang tidak aktif dari Tiongkok, harus kembali divaksin dengan AstraZeneca atau Pfizer untuk dosis ketiga dan satu dari dua yang sama untuk keempat.
Sementara untuk masyarakat yang telah menerima suntikan dosis ketiga vaksin Pfizer, kata Dr Opas, maka untuk suntikan dosis keempat harus tetap disuntik dengan vaksin yang sama. "Yang sesuai dengan kriteria kami akan bisa mendapatkan vaksin segera setelah disetujui oleh komite nasional penyakit menular," tutur Dr Opas.
Masih melansir Bangkok Post, Dr Opas menuturkan bahwa kementerian segera menawarkan penguat COVID-19 di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai kemungkinan wabah varian Omicron. Menurutnya, banyak penelitian yang telah menunjukkan bahwa virus COVID-19 mutasi baru itu dapat menghindari deteksi oleh sistem kekebalan tubuh karena efisiensi vaksin yang ada berkurang secara signifikan.
Namun, Dr Opas menerangkan bahwa penelitian juga menunjukkan suntikan booster setelah vaksinasi awal dapat mengurangi potensi rawat inap, penyakit kritis, dan kematian.
(wk/tiar)