Patung setinggi 8 meter itu menggambarkan kubu pro-demokrasi yang tewas dalam aksi massa di Alun-Alun Tiananmen, Beijing pada 1989. Seniman patung itu kini siap menuntut Hong Kong.
- Elvariza Opita
- Kamis, 23 Desember 2021 - 17:46 WIB
WowKeren - Sebuah monumen peringatan setinggi 8 meter dicabut hanya dalam waktu semalam dari kawasan Universitas Hong Kong. Monumen yang dimaksud adalah patung yang menggambarkan protes berdarah kelompok pro-demokrasi di Alun-Alun Tiananmen Beijing pada 1989.
Sebagai informasi, patung itu dibuat oleh pemahan Denmark, Jens Galschiøt. Ia menyertakan ilustrasi 50 tubuh yang tak utuh dan saling terlilit satu sama lain, menyimbolkan banyaknya nyawa yang meregang setelah kubu pro-demokrasi berhadapan dengan militer pada 1989 silam.
Melihat sejarahnya, tentu monumen ini begitu berharga untuk mereka yang memperjuangkan demokrasi. Apalagi karena kini Hong Kong juga diwarnai ketidakstabilan politik akibat gerakan kelompok-kelompok pro-demokrasi yang ingin memerdekakan diri dari Tiongkok.
Namun pada Rabu (22/12) larut malam, petugas bekerja untuk menyingkirkan monumen itu hanya dalam hitungan jam. Aparat keamanan berjaga di sekitar lokasi demi memastikan monumen yang dinamai "Pillar of Shame" itu bisa dipindahkan tanpa halangan dari kelompok pro-demokrasi.
Pencabutan patung ini tak pelak dikaitkan dengan sejumlah peristiwa politik yang terjadi di Hong Kong. Sebab belum lama ini, kandidat pro-Beijing mencetak kemenangan besar di pemilihan legislatif Hong Kong, yang tentu saja kemudian menunjukkan sikap "patriot yang loyal" terhadap Tiongkok. Selain itu, Pimpinan Hong Kong Carrie Lam juga baru saja menggelar pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping untuk melaporkan perkembangan negaranya.
Sementara itu, pencabutan "Pillar of Shame" tentu menemui pro dan kontra. Bukan hanya aktivis demokrasi dan HAM yang memprotesnya, melainkan juga Galschiøt selaku pemahat monumen bersejarah tersebut.
Bahkan Galschiøt sempat menawarkan diri untuk membawa monumen itu kembali ke negaranya selama ia dipastikan tidak dipersekusi saat tiba di Hong Kong, namun upayanya tak membuahkan hasil. Kini Galschiøt bahkan berniat untuk menggugat Hong Kong lantaran ia mengaku baru tahu soal rencana pencabutan monumen melalui media sosial.
"Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun saya takut mereka akan menghancurkannya," kata Galschiøt kepada The Associated Press, Kamis (23/12). "Ini patung saya, properti saya."
Sedangkan pihak universitas mengklaim mereka memiliki hak untuk mencabut monumen yang disebut tidak berizin tersebut. Setelahnya patung akan disimpan sementara tindaklanjut upaya hukum bakal diupayakan.
"Tidak ada satu pihak pun yang mendapat persetujuan universitas untuk memasang patung ini di kampus. Universitas punya hak penuh untuk mengambil langkah tegas kapanpun," tegas Universitas Hong Kong dalam pernyataan resminya.
"Hukum yang berlaku menunjukkan universitas berada dalam risiko pelanggaran hukum," imbuhnya. "Berdasarkan regulasi di bawah pemerintahan kolonial Hong Kong."
(wk/elva)