Sebagaimana diketahui, kritikus dan pembela hak asasi manusia di seluruh dunia telah mengutuk Tiongkok atas pelanggaran terhadap komunitas Muslim Uighur di provinsi Xinjiang.
- Zodiak Yanuarita
- Jumat, 24 Desember 2021 - 11:28 WIB
WowKeren - Perusahaan pembuat chip asal Amerika Serikat Intel pada Kamis (23/12) meminta maaf usai memberi tahu pemasok untuk menghindari sumber produk dan tenaga kerja di wilayah Xinjiang. Wilayah ini memang kontroversial di Tiongkok terutama terkait isu pelanggaran hak asasi dan manusia etnis Uighur.
Tak pelak, peringatan itu mendapat reaksi keras dari Beijing. Intel mengakui jika seruannya itu mungkin dapat memicu kegaduhan di antara mitra Tiongkok mereka.
"Meskipun niat awal kami adalah untuk memastikan kepatuhan terhadap undang-undang AS," kata Intel menurut CNN. "Surat ini telah menimbulkan banyak pertanyaan dan kekhawatiran di antara mitra Tiongkok yang kami sayangi, dan kami sangat menyesal."
Sebagaimana diketahui, kritikus dan pembela hak asasi manusia di seluruh dunia telah mengutuk Tiongkok atas pelanggaran terhadap komunitas Muslim Uighur di provinsi Xinjiang di barat laut negara itu. Mereka mengatakan Xinjiang adalah lokasi kamp "pendidikan ulang" di mana Tiongkok telah menahan anggota Uighur dan kelompok minoritas lainnya, di mana kerja paksa terlibat.
Intel mengatakan suratnya kepada pemasok adalah upaya untuk menyelaraskan diri dengan peraturan dan kebijakan luar negeri AS. Gedung Putih dan organisasi seperti Amnesty International telah menyerang Tiongkok atas pelanggaran yang diklaim.
"Kami mohon maaf atas masalah yang terjadi pada pelanggan, mitra, dan publik Tiongkok yang kami hormati," kata Intel, menurut The Guardian.
Juru bicara kementerian luar negeri Tiongkok Zhao Lijian mengatakan akan menjadi bisnis yang buruk bagi Intel untuk mengecualikan produk dan pekerja dari Xinjiang. "Kami berharap perusahaan terkait dapat menghormati fakta dan membedakan yang benar dari yang salah," kata Zhao, menurut Xinhua.
Pemerintah Beijing sendiri telah lama membantah tuduhan itu. Menlu Tiongkok menegaskan bahwa produk yang dihasilkan Xinjiang adalah produk yang berkualitas baik. "Jika perusahaan tertentu memilih untuk tidak menggunakan produk Xinjiang, itu adalah kerugian mereka," tegasnya.
(wk/zodi)