PM Malaysia, Ismail Sabri Yaakob, juga mendesak jajaran pemerintahannya untuk membatalkan liburan dan kembali bekerja menangani banjir yang masih menggenangi berbagai penjuru negeri.
- Elvariza Opita
- Jumat, 24 Desember 2021 - 19:17 WIB
WowKeren - Amarah publik Malaysia atas penanganan banjir yang melanda semakin tak terbendung. Bahkan warganet Malaysia sampai menggaungkan ajakan "Do Not Donate To Government (Jangan Menyumbang ke Pemerintah)" di Twitter sebagai wujud kemarahan mereka.
Amarah ini memuncak pasca Perdana Menteri Malaysia Ismail Sabri Yaakob meluncurkan program penggalangan dana publik untuk membantu para korban banjir. Publik mengecam pemerintahan Ismail yang lamban dalam merespons bencana alam yang menurut Kepolisian Malaysia telah menewaskan 41 orang hingga Sabtu (24/12) hari ini.
Ismail berusaha sekeras mungkin untuk mengembalikan kepercayaan publik, termasuk dengan meminta seluruh jajaran pemerintahannya untuk membatalkan liburan dan kembali bekerja mengatasi banjir. Bukan hanya itu, Ismail juga menjanjikan bantuan hingga MYR10.000 atau setara Rp33,8 juta untuk keluarga dan/atau ahli waris korban jiwa banjir.
"Kami sangat bersimpati dan sedih dengan apa yang terjadi dan kami akan memberikan beberapa kontribusi," tegas Ismail yang menyampaikan konferensi pers di lokasi pengungsian banjir di Sekolah Kebangsaan Bukit Piatus. "Kami akan menyalurkannya melalui kantor distrik untuk kemudian diserahkan ke keluarga terdekat dari korban yang bersangkutan."
Bantuan bukan hanya datang dari pemerintah federal, tetapi juga otoritas negara-negara bagian. Seperti pemerintah Pahang yang akan memberikan MYR5.000 (setara Rp16,9 juta) untuk ahli waris dan/atau keluarga korban meninggal banjir.
Ismail memastikan pemerintah sudah mengalokasikan MYR50 juta untuk membantu daerah sangat terdampak banjir, yakni Pahang dan Selangor. Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Lingkungan dan Air juga tengah berupaya untuk memompa air yang masih menggenangi Malaysia.
Pemerintah juga mendorong Badan Nasional Penanggulangan Bencana Malaysia (Nadma) untuk menyalurkan bantuan MYR1.000 (setara Rp3,4 juta) kepada setiap kepala keluarga yang terdampak banjir. "Saya minta Nadma melakukan penyaluran bantuan secepatnya. Tidak perlu isi data dan sebagainya, langsung berikan karena kita sudah punya data (korban terdampak banjir)," imbuh Ismail menegaskan, dikutip dari Malay Mail.
Di sisi lain, pemerintah Malaysia juga langsung mengambil langkah untuk menunda sementara jadwal masuk siswa-siswi di Malaysia. Bila seharusnya sekolah dimulai kembali pada 2 Januari 2022, maka akan ditunda hingga tanggal 9 Januari 2022.
(wk/elva)