Seperti yang diketahui, dalam aturan kekaisaran Jepang, penerus tahta hanya bisa dilanjutkan oleh garis keturunan laki-laki. Hal ini tentu saja memiliki dampak yang signifikan.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 30 Desember 2021 - 15:09 WIB
WowKeren - Setelah kepergian mantan Putri Mako karena menikah dengan kekasihnya yang merupakan rakyat jelata, Kei Komuro, kini keluarga kekaisaran Jepang disebut tengah menghadapi kepunahan. Hal ini dikarenakan kekurangan kaisar yang memenuhi syarat.
Namun beberapa ahli mengatakan gagasan yang melayang dalam penyelidikan pemerintah untuk meningkatkan jumlah pengawasan yang semakin berkurang tidak dapat disentuh. Menurut para ahli, dengan wanita dilarang naik tahta di bawah aturan suksesi khusus pria, tempat Kaisar Naruhito (61), suatu hari akan diisi oleh keponakannya Pangeran Hisahito, bukan anak tunggalnya Putri Aiko.
Apabila jika nanti Hisahito yang kini berusia 15 tahun tidak memiliki seorang putra, keluarga kerajaan, yang sejarahnya lebih dari 2.600 tahun, maka akan kehabisan ahli waris laki-laki untuk melanjutkan garis keturunan.
Sementara itu, jajak pendapat menunjukkan publik secara luas mendukung gagasan bahwa seorang wanita bisa mengambil peran kaisar yang tidak memiliki kekuatan politik di bawah konstitusi Jepang pasca Perang Dunia II, namun membawa kepentingan simbolis yang sangat besar.
Akan tetapi, tekanan untuk tetap berpegang pada tradisi lama dari anggota parlemen konservatif dan pemilih, yang menghormati bangsawan sebagai contoh sempurna dari keluarga patriarkal Jepang, membuat suksesi perempuan tidak mungkin, bahkan mustahil terjadi dalam waktu dekat.
Sementara itu, para pejabat diketahui tengah melakukan brainstorming solusi yang mungkin untuk dilema tersebut, dan minggu lalu sebuah panel yang ditugaskan secara khusus mengajukan dua saran kepada pemerintah. Salah satunya adalah dengan mengizinkan wanita kerajaan untuk mempertahankan gelar dan tugas publik mereka ketika menikah di luar keluarga.
Seperti yang diketahui, pada aturan kekaisaran Jepang saat ini, anggota keluarga yang menikah dengan rakyat biasa, akan menanggalkan gelar kekaisarannya, seperti yang terjadi pada mantan Putri Mako. Kedua, mengizinkan pria dari 11 mantan cabang keluarga kerajaan yang dihapuskan dalam reformasi pascaperang untuk "bergabung kembali" dengan garis langsung melalui adopsi.
Kemudian, laporan panel juga merekomendasikan bahwa aturan garis keturunan laki-laki dipertahankan setidaknya sampai Pangeran Hisahito menjadi kaisar. "Tetapi gagasannya sama sekali tidak didasarkan pada sistem keluarga saat ini di Jepang atau gagasan tentang kesetaraan gender," terang Makoto Okawa, seorang profesor sejarah di Universitas Chuo, Tokyo, kepada AFP, dilihat Kamis (30/12).
(wk/tiar)