Masyarakat Dinilai Bosan Dengan Pengetatan COVID-19, Epidemiolog 'Izinkan' Beraktivitas
Nasional
COVID-19 di Indonesia

Selama pandemi COVID-19 berlangsung di Indonesia, pemerintah menerapkan sejumlah kebijakan pengetatan untuk menekan angka penularan. Kini masyarakat dinilai sudah mulai bosan dengan aturan tersebut.

WowKeren - Pandemi COVID-19 hingga saat ini masih melanda Indonesia. Sudah hampir dua tahun, pemerintah menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat guna mencegah penularan COVID-19.

Sementara itu, Epidemiolog dari Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menuturkan bahwa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) saat ini sudah tidak cukup efektif untuk mencegah penularan COVID-19 varian Omicron. Hal ini lantaran masyarakat yang dinilai sudah mulai bosan dengan tarik ulurnya peraturan tersebut.

"Tidak apa-apa, jangan diketatkan lagi, enggak ada gunanya. Masyarakat sudah bosan," tutur Pandu kepada Tempo, Selasa (11/1). "Sekarang oke, boleh beraktivitas, cuma harus sudah divaksinasi dan yang paling penting pakai masker."

Lebih lanjut, Pandu menuturkan bahwa Omicron sendiri sangat sulit dilacak di tengah populasi masyarakat. Hal ini disebabkan oleh dalam banyak kasus varian Omicron, hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan tidak ada gejala. Tidak seperti varian Delta yang memiliki gejala relatif sedang hingga berat.


Sehingga masyarakat yang terinfeksi pun, menurut Pandu tidak akan sadar dan tidak melakukan swab test. Ia lantas mengatakan kalau untuk pelaku perjalanan internasional secara otomatis akan dites. Namun untuk masyarakat yang tidak bergejala, tidak akan dites. "Buat apa dites? Kan sehat. Dites kan kalau ada gejala," ujar Pandu.

Selanjutnya, Pandu menuturkan bahwa tingginya angka vaksinasi COVID-19 saat ini membuat varian Omicron tidak menimbulkan gejala parah pada penderita. Sehingga yang perlu dilakukan pemerintah saat ini adalah meningkatkan cakupan vaksinasi COVID-19 serta pengawasan pemakaian masker kepada seluruh masyarakat di mana pun daerahnya.

Menurut Pandu, peningkatan cakupan vaksinasi COVID-19 dan menggunakan masker secara disiplin itu cukup untuk mencegah melonjaknya kasus COVID-19, serta meningkatnya keterisian rumah sakit. "Kalau orang bergejala ringan bisa isoman atau isolasi terpusat, tapi tidak masuk rumah sakit," imbuhnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa Indonesia akan menghadapi gelombang virus COVID-19 varian Omicron. Akan tetapi, Budi meminta masyarakat tidak panik.

Senada dengan Pandu, Budi juga menuturkan bahwa jumlah pasien Omicron yang dirawat lebih sedikit. Maka dari itu, Kemenkes menginstruksikan masyarakat yang terpapar Omicron tidak dilarikan ke rumah sakit.

(wk/tiar)

You can share this post!

Related Posts