Waspada Gelombang Omicron, Kemenkes 'Ramal' Bisa Capai 60 Ribu Kasus COVID-19 Sehari
AFP/Lehtikuva
Nasional
Mutasi Corona Masuk Indonesia

Puncak gelombang COVID-19 varian Omicron ini diperkirakan terjadi pada awal atau pertengahan Februari 2022. Capaian puncak 60 ribu kasus ini melampaui ketika gelombang varian Delta.

WowKeren - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin sudah mengingatkan bahwa gelombang COVID-19 Omicron di depan mata. Kendati demikian, Budi Gunadi meminta masyarakat untuk tidak panik.

Mengenai gelombang Omicron yang diungkap Budi Gunadi, Kemenkes ternyata sudah memiliki prediksinya tersendiri. Seperti disampaikan Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 dari Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, lonjakan kasus COVID-19 akibat Omicron diprediksi bisa mencapai 60 ribu pasien baru dalam sehari.

"Bisa sampai 40-60 ribu kasus ya," jelas Siti Nadia kepada CNNIndonesia.com, Selasa (11/1). "Dan (prediksi) puncak kasus sekitar minggu pertama atau kedua bulan Februari 2022."

Angka ini jelas melampaui puncak kasus COVID-19 harian Indonesia ketika varian Delta menerjang. Mengutip CNNIndonesia.com, rekor yang dicatatkan pada 15 Juli 2021 mencapai 56.757 kasus baru.


Perihal lonjakan kasus yang diprediksi sampai 60 ribu ini, menurut Siti Nadia, adalah karena varian Omicron juga. Pasalnya hingga kini Indonesia saja sudah mencatatkan 414 kasus COVID-19 Omicron yang didominasi pelaku perjalanan internasional.

"Sebagian besar kasus Omicron berasal dari pelaku perjalanan luar negeri," tutur Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) Kemenkes itu. "Karena itu masyarakat diharapkan menunda dahulu jika ingin pergi ke luar negeri."

Meski demikian, berbagai penelitian menyebut bahwa infeksi varian Omicron tidak menyebabkan keparahan gejala, sehingga harapannya lonjakan kasus tidak sampai menyebabkan sistem kesehatan kolaps. Kendati demikian, Kemenkes sudah mengantisipasinya dengan memaksimalkan penggunaan 17 layanan telemedicine dan mengimbau pasien COVID-19 Omicron untuk tidak langsung dilarikan ke rumah sakit.

"Sehingga strategi Kemenkes RI akan digeser," terang Menkes Budi Gunadi Sadikin dalam konferensi persnya, Senin (10/1). "Yang tadinya ke rumah sakit, kini fokusnya ke rumah, sehingga tidak banyak orang yang ke rumah sakit."

Nantinya pasien COVID-19 Omicron yang dirawat di rumah, dijelaskan Budi Gunadi, tetap bisa mengakses layanan konsultasi dokter dan obat-obatan melalui telemedicine. "Kami juga sudah bekerja sama dengah satu start up di bidang logistik dan BUMN Kimia Farma untuk bisa memastikan obat-obatannya bisa sampai," pungkasnya.

(wk/elva)

You can share this post!

Related Posts