Strategi COVID-19 untuk PTM Kacau, Guru Demo Sebabkan Separuh Sekolah di Prancis Terancam Tutup
AFP/Thomas Samson
Dunia
Sekolah di Tengah Corona

Pemogokan itu terjadi di tengah lonjakan infeksi virus corona di seluruh Prancis. Seperti sebagian besar di belahan dunia lainnya, kenaikan itu didorong oleh varian omicron.

WowKeren - Pemogokan massal guru terjadi di Prancis yang mengakibatkan ditutupnya sekolah-sekolah. Sekitar setengah dari sekolah yang ada di sana diperkirakan akan tutup ketika para guru mengeluhkan protokol keselamatan COVID-19 di ruang kelas.

Mereka juga mengeluhkan cara pemerintah dalam menghadapi pandemi. Sekitar selusin serikat guru di seluruh Prancis menyerukan pemogokan sebagai protes dan seruan untuk perubahan.

Sejak anak-anak kembali ke ruang kelas bulan ini, pemerintah Prancis telah mengubah aturan COVID-19 tiga kali. Banyak guru mengatakan bahwa protokol keselamatan yang longgar mengancam siswa dan staf.

Perdana Menteri Jean Castex melonggarkan protokol lagi pada hari Senin (10/10), yang mana hal ini mendorong seruan untuk pemogokan. Padahal pekan ini, Presiden Emmanuel Macron telah melukiskan gambaran yang berbeda ketika dia mengatakan bahwa menjaga sekolah tetap buka di era COVID-19 telah menjadi salah satu pencapaian terbesar negara itu.


Pejabat serikat mengatakan sekitar 75 persen dari guru diharapkan untuk berpartisipasi dalam pemogokan buruh pada hari Kamis. Karena ketidakhadiran guru tersebut maka sekitar setengah dari semua sekolah di Prancis terancam tutup.

Pemogokan itu terjadi di tengah lonjakan infeksi virus corona di seluruh Prancis. Seperti sebagian besar di belahan dunia lainnya, kenaikan itu didorong oleh varian omicron yang menular.

Minggu ini, negara itu mencatat rata-rata sekitar 350.000 kasus baru per hari. Sebelas serikat pekerja ikut turun ke jalan dalam aksi pemogokan hari Kamis, termasuk hampir 40 persen guru sekolah dasar dan seperempat guru sekolah menengah.

Melansir Al Jazeera, kekesalan dirasakan dalam demonstrasi protes di seluruh Prancis. Banyak yang menyerukan agar Menteri Pendidikan Jean-Michel Blanquer mengundurkan diri dari jabatannya. "Protokol (kesehatan) bermutasi lebih cepat daripada virus," tulis salah satu poster.

Natacha Butler dari Al Jazeera, melaporkan dari Paris bahwa pengunjuk rasa menilai aturan yang diberlakukan terlalu rumit dan tidak dapat diatur. "Mereka mengatakan pembatasan menempatkan mereka pada risiko virus di ruang kelas lebih parah dari bulan-bulan sebelumnya, pada saat virus beredar begitu luas di Prancis," kata Butler.

(wk/zodi)

You can share this post!

Related Posts