Tsunami Imbas Letusan Gunung Api Tonga Disebut Terdeteksi di Indonesia, Ini Kata BMKG
AP/APAN Meteorology
Nasional

Ahli tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Semeidi Husrin, lantas mengungkapkan bahwa tsunami akibat erupsi gunung api di Tonga itu juga sempat terdeteksi di Indonesia.

WowKeren - Erupsi gunung api bawah laut di Tonga, sebuah negara kepulauan di Pasifik, pada Sabtu (15/1) memicu gelombang tsunami di sejumlah wilayah. Ahli tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Semeidi Husrin, lantas mengungkapkan bahwa tsunami akibat erupsi gunung api di Tonga itu juga sempat terdeteksi di Indonesia.

Menurutnya, gelombang tsunami tersebut terdeteksi oleh Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut (PUMMA). Alat itu dipasang di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa dan pantai barat Sumatera.

"PUMMA dilengkapi dengan sistem peringatan otomatis saat terjadi anomali muka air berhasil mendeteksi gelombang tsunami di Pelabuhan Perikanan Prigi (Jawa Timur) pada 15 Januari 2022 pukul 13.13 UTC (pukul 20.14 WIB) atau kurang dari 9 jam pasca-letusan pulau gunung api di Tonga, persisnya 8 jam 47 menit," papar Semeidi dilansir Kompas.id.

Adapun tinggi gelombang tsunami itu disebut berkisar antara 20-30 centimeter dan terus berisolasi hingga Senin (17/1) dini hari. PUMMA yang terpasang di Prigi, Jawa Timur, disebut telah memberikan total 36 peringatan kedatangan tsunami secara otomatis ke email pihak Semeidi.


Menurut Semeidi, gelombang tsunami juga tertangkap oleh sensor PUMMA di Palabuhanratu, Jawa Barat, dan di Tua Pejat, Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Adapun PUMMA disebut Semeidi telah terpasang selama tiga tahun.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) lantas buka suara terkait deteksi tsunami imbas erupsi di Tonga tersebut. Menurut Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, data kenaikan tinggi muka air 20-30 centimeter di selatan Jawa masih perlu dianalisis lebih lanjut. Daryono masih berpegang pada data BMKG yang mencatat tsunami akibat erupsi di Tonga tak berdampak di Indonesia.

"Iya benar, saya dalam posisi skeptis artinya saya tidak menolak tetapi saya juga belum menerima," papar Daryono dilansir detikcom, Rabu (19/1). "Tetapi saat ini saya masih berpatokan data kami kemarin bahwa tsunami tidak berdampak di wilayah Indonesia."

Lebih lanjut, Daryono menjelaskan dirinya belum yakin lantaran catatan waktu anomali tinggi muka air di selatan Jawa lebih cepat dari catatan di timur Australia. Mengingat jarak dari Tonga ke Jawa lebih jauh dibanding ke Australia.

"Iya tapi belum yakin karena kalau dilihat waktunya catatan di selatan Jawa tersebut kok lebih cepat dari catatan di timur Australia," tukasnya.

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts