Dulu Borong Mobil Namun Kini Menyesal Jual Lahan, Ini Fakta Soal 'Kampung Miliarder' di Tuban
Nasional
Kampung Miliarder Tuban

Diketahui, sejumlah warga di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, telah mendapat dana ganti rugi lahan untuk proyek kilang minyak Pertamina yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

WowKeren - Sebuah desa di Kabupaten Tuban, Jawa Timur, sempat viral pada awal tahun 2021 lalu karena warganya membeli ratusan mobil dalam waktu bersamaan. Diketahui, sejumlah warga tersebut telah mendapat dana ganti rugi lahan untuk proyek kilang minyak Pertamina yang nilainya mencapai miliaran rupiah.

Baru-baru ini, warga "Kampung Miliarder" tersebut kembali mendapat banyak sorotan. Namun bukan karena harta mereka yang melimpah, melainkan karena warga mengaku menyesal telah menjual lahan mereka. Sejumlah warga bahkan melakukan unjuk rasa di kantor PT Pertamina GRR Tuban pada Senin (24/1).

Apa yang sebenarnya terjadi pada warga "Kampung Miliarder" Tuban tersebut? Simak ulasannya berikut ini!

Pada Februari 2021 lalu, media sosial sempat dikejutkan oleh video sejumlah warga di Desa Semurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban yang membeli 17 mobil baru secara bersamaan dalam sehari. Tak main-main, tercatat ada 176 mobil baru yang dibeli warga desa setempat sejak menerima uang ganti rugi penjualan lahan pembangunan kilang minyak. Satu orang warga bahkan bisa membeli dua hingga tiga unit mobil baru dengan uang tersebut.

Pihak Pertamina diketahui membeli lahan warga untuk proyek kilang minyak dengan harga yang bervariasi. Bahkan ada warga yang mendapatkan uang di atas Rp 20 miliar. Hal ini membuat warga "Kampung Miliarder" beramai-ramai membeli mobil baru.

Uniknya, ada beberapa warga yang tetap membeli mobil baru meski belum bisa menyetir. Belasan mobil baru milik warga Desa Sumurgeneng bahkan sempat dikabarkan mengalami kerusakan karena pemiliknya belum lancar mengemudi.

Menurut Branch Manager Auto 2000 Tuban, Arie Soerjono, ada sejumlah mobil warga Desa Sumurgeneng yang mengalami kerusakan akibat kecelakaan skala kecil di lingkungan jalan desa setempat. Sebagai contoh, salah satu mobil menabrak garasi kala pemiliknya hendak mundur.

Lebih lanjut, para sales yang menawarkan berbagai macam produk pun mulai berdatangan ke wilayah tersebut sejak "Kampung Miliarder" menjadi viral. Mulai dari yang menawarkan mobil hingga paket perjalanan umrah.


"Ya ini lagi mencoba menawarkan perjalanan umrah ke warga, tahu kampung ini viral dari pemberitaan," ungkap seorang sales biro umrah asal Surabaya bernama Anita kala itu, dilansir Kompas.com.

Selain itu, aparat keamanan rupanya juga disiagakan 24 jam setelah "Kampung Miliarder" viral. Bhabinkamtibmas dan Babinsa melakukan patroli di tiga desa yang warganya mendadak jadi miliarder, yakni Desa Sumurgeneng, Desa Wadung, dan Desa Kaliuntu.

"Mereka kami kasih imbauan agar memastikan keamanan dirinya dan hartanya," tutur Kapolres Tuban AKBP Ruruh Wicaksono.

Sekitar setahun setelah menerima dana miliaran rupiah tersebut, sejumlah warga "Kampung Miliarder" justru mengaku menyesal telah menjual lahannya. Seorang warga bernama Mugi mengaku kini tidak berpenghasilan. Sebelumnya, ia memiliki lahan pertanian seluas 2,4 hektar. Ia menjual lahan itu dengan harga Rp2,5 M lebih.

"Ya nyesel, dulu lahan saya ditanami jagung dan cabai setiap kali panen bisa menghasilkan Rp 40 juta," ungkap Mugi kepada Kompas.com. "Sejak tak (saya) jual, saya tidak ada penghasilan."

Diakui Mugi, ia sebenarnya tidak ingin menjual tanahnya. Namun pihak Pertamina selalu datang merayu.

Sejumlah warga [un melakukan unjuk rasa di kantor PT Pertamina GRR Tuban pada Senin (24/1). Mereka berunjuk rasa menagih janji Pertamina yang akan memprioritaskan warga lokal sebagai pekerja.

Suwarno selaku koordinator warga lantas mengungkapkan bahwa pihak perusahaan mensyaratkan pekerja dari warga lokal harus di bawah usia 50 tahun. Hal ini tidak sesuai dengan janji Pertamina pada saat proses pembebasan lahan.

"Ada pembatasan persyaratan usia yang dilakukan pihak perusahaan di atas 50 tahun tidak diperbolehkan," terang Suwarno. "Ini gimana pekerja kasar aja tidak diperbolehkan, Tapi, kenyataannya ada pekerja dari luar ring 1 yang usianya di atas batas umur yang ada."

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts