Dalam rekaman kamera pengawas, pria tersebut tampak menyerahkan catatan bunuh diri kepada petugas polisi yang bertugas di South Square Stasiun Kereta Shanghai di distrik Jing'An. Setelah itu ia jatuh pingsan di tempat.
- Bertilia Puteri
- Kamis, 27 Januari 2022 - 14:27 WIB
WowKeren - Seorang pria di Tiongkok dilaporkan melakukan percobaan bunuh diri pada 22 Januari 2022 lalu. Pria tersebut dilaporkan merasa kecewa lantaran putranya tak kunjung menikah dan berkeluarga meski sudah hampir berusia 30 tahun.
Dalam rekaman kamera pengawas, pria tersebut tampak menyerahkan catatan bunuh diri kepada petugas polisi yang bertugas di South Square Stasiun Kereta Shanghai di distrik Jing'An. Setelah itu ia jatuh pingsan di tempat.
Pria tersebut dilaporkan telah menegak pestisida atau obat pembasmi hama. Polisi langsung memanggil ambulans dan pria tersebut kemudian dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan darurat. Beruntung, nyawa pria tersebut kini tidak lagi dalam bahaya meski ia harus tetap berada di rumah sakit untuk perawatan lebih lanjut.
Menurut laporan Sina, pria tersebut sebelumnya tengah mengunjungi putranya yang bekerja di Shanghai. Namun pria tersebut merasa kecewa lantaran sang putra masih belum menikah dan berkeluarga di usia 29 tahun.
Sementara itu, sejumlah warganet menyoroti catatan bunuh diri yang dibagikan KNews. Dalam catatan tersebut, pria itu menyinggung soal anaknya yang "tidak bisa menghasilkan uang di Shanghai".
"Kamu tidak dapat menghasilkan uang di Shanghai, dan bahkan harus menggunakan puluhan ribu RMB milikku dan ibumu (RMB 10.000 bernilai sekitar Rp 22,6 juta) untuk memungkinkan kamu mencari pacar dan kamu belum menemukan satu orang pun (pacar)," demikian kutipan catatan tersebut dilansir Mothership. "Orang-orang di desa yang seumuran dengan saya sudah memiliki banyak anak dan cucu. Malu bagi saya untuk terus hidup, kamu sudah menjadi orang dewasa berusia 29 tahun yang belum mencapai kesuksesan ... Nenekmu akan berusia 90 tahun tahun ini."
Warganet lantas menduga bahwa sang ayah kemungkinan merasa jengkel bukan hanya karena sang putra masih lajang di usia hampir 30 tahun. Namun juga karena anaknya masih belum bisa mendapat kesuksesan di Shanghai, dan masih tergantung pada orangtua untuk membiayai pencarian pacarnya.
(wk/Bert)