Sub-Varian Omicron BA.2 yang Telah Terdeteksi di Indonesia Lebih Parah dan Menular? Ini Kata Pakar
Nasional
Waspada Omicron

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa sub-varian BA.2 yang disebut-sebut sebagai 'Son of Omicron' tersebut sudah ada di Indonesia. Budi menyebut pihaknya sudah mendeteksi sekitar 10 kasus.

WowKeren - Sub-varian baru dari Omicron yang dijuluki BA.2 belakangan telah ditemukan di berbagai negara, mulai Inggris hingga Thailand. Kekinian, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memastikan bahwa sub-varian BA.2 yang disebut-sebut sebagai "Son of Omicron" tersebut sudah ada di Indonesia.

"Sudah ada. Kita sudah deteksi mungkin sekitar 10," ungkap Budi dalam perbincangan dengan media pada Kamis (27/1).

Budi menjelaskan bahwa sub-varian Omicron tersebut sulit dideteksi menggunakan S Gene Target Failure (SGTF). Diketahui, SGTF selama ini digunakan untuk melakukan skrining kasus Omicron di Indonesia.


Menurut Budi, sub-varian BA.2 ini berbeda dengan BA.1 sehingga tidak terdeteksi dengan SGTF. Meski demikian, Budi memastikan bahwa Indonesia akan segera memiliki reagen yang bisa mendeteksi kedua sub-varian tersebut.

Sementara itu, pakar biologi molekuker Ahmad Rusdan Utomo mengungkapkan alasan sulitnya deteksi BA.2 menggunakan SGTF. Ia menjelaskan bahwa hal tersebut disebabkan oleh tidak adanya delesi asam amino posisi 69-70 pada protein Spike, atau protein tanduk yang merupakan kunci protein virus untuk masuk ke sel manusia. Padahal metode SGTF mengandalkan delesi tersebut untuk melakukan deteksi.

Sub-varian BA.2 ini diduga menular lebih cepat dibandig Varian Omicron. Namun Ahmad memaparkan bahwa hingga saat ini, sub-varian BA.2 masih belum terbukti menimbulkan gejala lebih berar dibanding Varian Omicron BA.1.

"Memang diduga penyebaran BA.2 lebih tinggi, tapi tidak diketahui apakah juga menimbulkan tingkat keparahan gejala. Hingga kini peningkatan penyebaran BA2 juga tidak diikuti dengan kenaikan angka kenaikan pasien COVID yang dirawat di rumah sakit," jelasnya dilansir detikcom. "Yang pasti secara umum semua varian masih terdeteksi sebagai COVID. Artinya mitigasinya pun masih standar yaitu prokes dan vaksinasi."

(wk/Bert)


You can share this post!


Related Posts