Gaya hidup LGBT dan seks bebas disebut memicu peningkatan kasus HIV dan AIDS di kota Malang. Hal itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang.
- Amelia Nur Fatimah
- Kamis, 03 Februari 2022 - 12:43 WIB
WowKeren - Sebuah penelitian menghasilkan kesimpulan terkait kualitas hidup pasien human immunodeficiency virus (HIV)-acquired immune deficiency syndrome (AIDS) di kota Malang, Jawa Timur. Penelitian itu dilakukan oleh salah satu dosen Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sri Sunaringsih Ika Wardojo. Penelitian itu menunjukkan jika pola hidup LGBT dan seks bebas memberikan kontribusi besar terhadap peningkatan kasus HIV-AIDS di Kota Malang.
Penelitian berfokus pada perkembangan dan permasalahan psikososial yang dialami pengidap HIV. Selain itu, penelitian membahas pengaruh HIV terhadap kualitas hidup maupun tingkat depresi yang dialami. Setelah melalui sidang, penelitian yang dilakukan Ika pun berhasil mengantarkannya meraih gelar doktor di Taipei Medical University, Taiwan.
Ika menuturkan, pengidap HIV-AIDS yang terdeteksi di Kota Malang ada di angka sekitar 600 orang. Banyaknya jumlah pengidap itu terjadi karena tingginya mobilisasi masyarakat di Kota itut. Saat ini tak bisa dipungkiri berbagai kebudayaan dari berbagai wilayah telah bercampur di Kota Malang.
"Keterbukaan atas kelompok-kelompok rentan HIV-AIDS, seperti LGBT dan seks bebas juga turut berkontribusi meningkatkan angka kenaikan HIV di Kota Malang," ujar Ika dalam siaran pers yang diterima, Rabu (2/2).
Sejalan dengan kenaikan angka HIV-AIDS, Ika mengungkap ada permasalahan kompleks yang juga dialami harus dialami para pengidapnya. Salah satunya adalah stigma buruk. Masyarakat menganggap orang dengan HIV-AIDS perlu dihindari agar tidak tertular.
Ika mendapati para pasien kerap mengalami berbagai tekanan dan penolakan, baik oleh keluarga maupun masyarakat. Informasi itu diperoleh Ika melalui penelitiannya yang berlangsung sejak 2018 hingga 2020. Data itu dikumpulkan dari 600 pasien HIV-AIDS yang berobat di beberapa rumah sakit (RS) di Kota Malang.
Hasil penelitian menunjukan terdapat permasalahan psikososial akibat pandangan negatif dan rendahnya dukungan dari orang sekitar. Jika permasalahan tersebut terjadi dalam jangka panjang, menurut Ika, dapat meningkatkan depresi dan menurunkan tingkat kualitas hidup orang dengan HIV-AIDS (ODHA).
Untuk membantu para ODHA, Ika menyarankan, perlu adanya edukasi secara simultan kepada masyarakat. Hal ini terjadi mengenai informasi penularan, pencegahan, dan pengecekan berkala. Selain itu, masyarakat juga harus diedukasi mengenai pentingnya pemberian dukungan sosial dan menghindari pelabelan negatif pada ODHA.
"Diharapkan dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut dapat mengurangi depresi dan meningkatkan kualitas hidup mereka dalam jangka panjang," pungkasnya.
(wk/amel)