Aksi protes warga Desa Wadas atas persoalan pengukuran lahan yang disebut untuk proyek Bendungan Bener hingga kini masih menjadi perbincangan publik. Adapun kini terungkap akar aksi perlawanan warga Wadas.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 10 Februari 2022 - 08:03 WIB
WowKeren - Belakangan ini, publik tengah menyoroti aksi protes dari warga Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Adapun aksi protes yang dilakukan warga itu berkaitan dengan pengukuran lahan yang diketahui akan dijadikan bendungan.
Adapun aksi protes tersebut diketahui berujung pada konflik antara aparat gabungan TNI, Polri, dengan warga Desa Wadas, Selasa (8/2) lalu. Dalam konflik tersebut, aparat sempat melakukan penangkapan terhadap sejumlah warga Desa Wadas. Namun kini mereka telah dibebaskan.
Kekinian, diketahui bahwa publik tidak hanya menyoroti aksi penangkapan yang dilakukan oleh aparat, melainkan juga ramai-ramai mengkritik proyek pembangunan Bendungan Bener di wilayah tersebut. Bahkan proyek bendungan itu disebut menjadi awal atau akar persoalan dari perlawanan yang dilakukan oleh warga Wadas. Pasalnya, keberadaan proyek bendungan tersebut menjadi ancaman kerusakan lingkungan hingga hilangnya mata pencaharian warga.
Sebagai informasi, Bendungan Bener sendiri merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang akan memasok sebagian besar kebutuhan air ke Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta. Menurut catatan Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP), Bendungan Bener nantinya disebut akan memiliki kapasitas 100,94 meter kubik.
Selain itu, Proyek Bendungan Bener juga memerlukan pasokan batuan andesit sebagai material pembangunan. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan pasokan batu andesit tersebut, pemerintah mengambil dari Desa Wadas.
Berdasarkan informasi yang tertuang dalam laman resmi Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), walhi.or.id, proyek tambang di Desa Wadas ini merupakan tambang quarry atau penambangan terbuka (dikeruk tanpa sisa) yang rencananya akan berjalan selama 30 bulan. Di sisi lain, penambangan batu itu nantinya juga akan dilakukan dengan cara dibor, dikeruk, dan diledakkan menggunakan 5.300 ton dinamit hingga kedalaman 40 meter.
Kemudian tambang quarry batuan andesit itu juga menargetkan 15,53 juta meter kubik material untuk pembangunan Bendungan Bener. Apabila hal ini terjadi, maka akan menghilangkan bentang alam dan tidak ada bedanya dengan memaksa warga untuk hidup dengan kerusakan ekosistem.
Di sisi lain, lahan di Desa Wadas merupakan sumber penghidupan warga sekitar atas hasil perkebunan dan pertanian. Sehingga apabila proyek tersebut dilanjutkan, maka akan mengancam mata pencaharian warga desa.
(wk/tiar)