Pada Kamis (24/2), Rusia disebut telah meluncurkan serangan militer kepada Ukraina. Atas serangan ini, juga berdampak pada pasar asia hingga saham Rusia sendiri.
- Tiara Yola Ade Ramadhanti
- Kamis, 24 Februari 2022 - 15:12 WIB
WowKeren - Konflik yang terjadi antara Rusia dengan Ukraina saat ini tampaknya semakin agresif. Bahkan Rusia disebut telah meluncurkan serangan terhadap Ukraina. Bunyi ledakan pun terdengar di wilayah Kyiv dan kota-kota lainnya.
Konflik yang semakin agresif itu tampaknya juga mempengaruhi pasar Asia. Pasar Asia Hong Kong dan saham berjangka Amerika Serikat (AS) pada Kamis (24/2), diketahui jatuh. Pasalnya, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan operasi militer di wilayah Donbas di Ukraina.
Sementara di Pasar Asia, Indeks Hang Seng (HSI) Hong Kong mengalami penurunan menjadi 3,2 persen. Kospi Korea turun 2,7 persen, Nikkei 225 (N225) Jepang turun 2,4 persen. Kemudian Shanghai Composite China bergerak 0,9 persen lebih rendah.
Di sisi lain, saham teknologi Tiongkok juga jatuh pada Kamis (24/2), meski ada media pemerintah yang berusaha meyakinkan investor atas masalah regulasi. Pada pekan lalu, otoritas Tiongkok merilis seperangkat aturan baru untuk membantu sektor jasa pulih dari pandemi, dan mengarahkan platform pengiriman online untuk memotong biaya layanan atau komisi yang mereka bebankan kepada bisnis.
Hal itu lantas memicu kekhawatiran tentang tindakan keras teknologi baru dan memukul saham teknologi minggu ini. Platform pengiriman makanan online Meituan diketahui telah anjlok lebih dari 20 persen sejak Jumat pekan lalu.
Saham berjangka milik AS diketahui juga jatuh. Dow berjangka turun sebanyak 780 poin atau 2,4 persen. S&P 500 dan Nasdaq berjangka masing-masing turun 2,3 persen dan 2,8 persen. Sebelumnya, saham AS juga telah dinyatakan mengalami penurunan imbas peringatan invasi Rusia.
Sementara itu, bursa Moskow pada Kamis (24/2), mengumumkan bahwa mereka telah menangguhkan perdagangan di semua pasarnya sampai pemberitaan lebih lanjut. Rubel Rusia disebut anjlok hampir 10 persen terhadap USD, diperdagangkan pada 89,59 per USD.
Pasar saham Rusia sendiri diketahui telah jatuh pada awal sesi perdagangan yang tertunda pada Kamis (24/2), setelah Rusia meluncurkan aksi militer di Ukraina. Bahkan indeks MOEX benchmark terkemuka di Rusia turun lebih dari 28 persen dalam 30 menit pertama perdagangan, menurut data di situs web bursa.
Hal tersebut terjadi diduga imbas saat pemerintah Barat menjanjikan sanksi yang belum pernah terjadi sebelumnya atas tanggapan pengumuman mengejutkan dari Putin bahwa Rusia telah melancarkan aksi militer terhadap Ukraina. Sehingga, hal ini membawa pasar ke level terendah sejak dimulainya pandemi COVID-19 yang menjerumuskan pasar global ke dalam kekacauan hampir dua tahun lalu.
Adapun awal perdagangan ditunda sementara untuk memungkinkan Bank Sentral Rusia mengumumkan paket dukungan darurat-intervensi di pasar mata uang asing dan meningkatkan likuiditas ke bank. Kemudian, regulator mengatakan siap untuk menggunakan "semua alat yang diperlukan" untuk mencegah volatilitas terburuk.
Sejauh ini, saham Sberbank milik negara, bank terbesar di negara itu dan kemungkinan target sanksi, turun sebanyak 28%. VTB, pemberi pinjaman terbesar kedua di Rusia, adalah pelemah pasar terbesar, turun 35%.
Selanjutnya, perusahaan komoditas raksasa Rusia, termasuk Gazprom milik negara, eksportir logam dan perusahaan teknologi semuanya jatuh dalam aksi jual massal. Rubel Rusia sangat fluktuatif dalam perdagangan Kamis pagi, jatuh lebih dari 10% pada satu titik untuk berdiri di atas 100 melawan euro dan 90 melawan USD, keduanya posisi terendah sepanjang masa.
(wk/tiar)